JUSTIC
Penulis : Widy shahafiyah.

Saat bercerita tentang sebuah kenangan, apa yang kau fikirkan. apakah itu kenangan buruk atau kenangan yang baik. izinkan aku bercerita tentang kenangan itu. Sebuah kenangan yang cukup singkat namun tetap berbekas, tentang apa artinya sebuah keluarga.

Namaku widya, aku dilahirkan dari sepasang suami istri setelah sebelumnya mereka dianugrahi 3 orang anak lelaki, yang artinya aku adalah anak perempuan satu-satunya. aku tak berniat untuk menyombongkan diri sendiri, tapi kelahiranku cukup mengundang sedikit tragedi. diawal kelahiranku tidak banyak dihiasi dengan warna warni kebahagiaan rumah tangga. Dari cerita yang kudengar ibu ingin bercerai dengan ayah, saat itu alasan ibu hanya satu. ia tak tahan dengan sikap ayah yang terlampau keras dan main tangan, ibu berkata pada ayah " kini aku sudah memiliki anak perempuan yang bisa mengurusiku, maka tak ada lasan rumah tangga ini kita bina". perkataan ibu membuat ayah marah dan berkata, lebih baik anak ini dibagi 2 saja. akhirnya perceraian itu tak terjadi.

Setelah itu aku tidak tau lagi, yang aku ketahui tentang ayah, ia adalah seorang yang menyayangi putrinya tentang putranya aku kurang mengetahui. kakak tertuaku hanya hidup dengan kami sampai aku berumur lima setengah tahun lalu ia merantau kenegeri orang, dan hingga saat ini aku tak pernah bertemu dengannya. kakak keduaku ia hanya hidup denganku sampai aku berumur 7 tahun, ia meninggal saat aku menduduki kelas 1 sekolah dasar. Kakak ketigaku aku tidak bisa mengingatnya kami tak pernah bersua, ia meninggal sebelum aku ada dikandungan ibuku, dan akhirnya aku hanya seperti anak tunggal. 

Aku ingin menceritakannya secara berurutan tentang ketiga saudaraku yang tinggal sedikit diingatanku. Derit yanto begitulah semua orang memanggilnya secara lengkap, ia adalah kakak pertamaku, sebelumnya ia pernah bersekolah di Thawalib parabek tapi ia hanya tahan sampai kelas 3  saja. sejak saat itu ia mulai bekerja. Hanya satu kenangan yang dapat kuingat darinya, saat kami saling bercanda bersama, saat dia membuatku menangis karena menyembunyikan bakso tusukku dan kenangan itu habis. ia pergi merantau dan tak kembali lagi, aku tau dia sering menelfon ibu dan ingin berbicara denganku. tapi aku tak mau, aku selalu saja menangis jika hanya berbicara lewat HP.

Lalu ada Ladoni Latief ia kakak keduaku, kami terpaut lumayan jauh yaitu sekitar 10 tahun. Yang aku ingat tentangnya adalah kebanggaan memiliki seorang kakak dan bencinya mempunyai seorang kakak sepertinya. Ketika menulis tentangnya tanganku selalu berhenti, bingung harus seperti apa menceritakannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis seperti ini, ia adalah seorang anak yang cerdas meski pemalas. ia sangat pandai mengerjakan sesuatu yang belum pernah dicobanya. ia sangat pandai menggambar, bermain sepeda, dan bermain alat elektronik. Aku bangga padanya, bangga karna ia adalah kakakku. aku mengetahui Tarbiyah Candung karena ia bersekolah disini sebelumnya. Hanya satu yang menjanggal dibenakku sampai sekarang, apa ia bangga dapat memiliki seorang adik sepertiku?. Aku tak mendapat ekspresi bahagianya seperti saat ia bercanda dengan temanku. Dan untuk alasan itu aku membencinya.

Suatu hari ia sakit, sederhana saja ia lupa makan pagi. lalu sakitnya berlanjut hingga 2 minggu lebih. Dari cerita yang kudengar beberapa dokter dan dukun mendefenisikan penyakitnya bermacam-macam, dari demam biasa hingga tifus. aku masih ingat ketika itu dengan berurai air mata dia menangis untuk tidur di sebelah ibu untuk yang terakhir kalinya dan yang paling ku ingat dia memohon padaku. aku yang kala itu masih kecil dan egois tak ingin pelukan ibuku terbagi dengan kakakku yang lain. Akhirnya ayah mengambil keputusan yang bijaksana, ayah memilih tidur diluar ,dan kami tidur dengan ibu. malam-malam berikutnya tangan ibu selalu terbentang lebar untuk memeluk aku dan kakakku, dan aku tau ibuku selalu menangis.

Berikutnya yang ada diingatanku adalah kala itu ia merangkak memohon pada ayah untuk dirawat dirumah sakit padahal sudah seharian mati lampu. Akhirnya keluargaku kecuali aku berangkat ke rumah sakit. Dari cerita ibu malam sebelum ia pergi selama-lamanya ia bermimpi, dan aku hanya dapat menyimpulkan itu adalah pesan terakhirnya.

Berlanjut pada kisah berikutnya. Yon, hanya itu yang ku tau tentang kakakku yang ketiga. aku baru tau bahwa aku memiliki kakak ketiga saat seorang sepupuku menyinggung tentangnya dan saat itu baru kelas 4 sekolah dasar. dari cerita ibu lagi ia adalah anak yang putih dan pandai dalam hal berbicara. ia meninggal saat berumur dua tahun karna tifus.

Lalu tentangku, aku fikir aku hanya anak perempuan biasa. teman-teman MDA berkata aku adalah anak pintar karena aku selalu masuk dalam 3 besar, tapi aku merasa hanya anak yang tidak pintar saat kuingat di SD aku terus menjadi sasaran Rol panjang sekolah. Teman di tarbiyah berkata aku adalah anak yang tidak pilih teman. Tapi aku merasa itu wajar karna mengingat di SD aku selalu dikucilkan. Aku hanyalah anak yang kesepian di rumah, orang-orang bilang pasti senangnya menjadi aku yang hidup seperti anak tunggal. Tapi mereka tidak tau bagaimana aku irinya melihat mereka dengan saudara-saudara mereka. mungkin benar kehendakku sedikit mudah untuk dikabulkan orang tuaku. tapi kebahagiaan keluarga, aku tertinggal jauh dari mereka.

Hal yang aku sesalkan adalah bahwa aku hanya memiliki memori singkat untuk mengenang suatu kejadian, sehingganya aku mengetahui kejadian ini, aku akan mencoba untuk menulis dan merekam setiap kejadian masa laluku terutama tentang keluarga. Aku menyesal telah membenci mereka. jika aku tau kebersamaan kami sesingkat ini aku akan terus cerewet meski akan kena marah. satu yang belum kuungkapkan pada mereka, aku Widya Wahyuni akan terus bangga memiliki kakakku tercinta dan maaf pernah meragukan kalian.

hal yang dapat kusampaiakan tentang kenangan ini adalah, selagi kamu masih memiliki kenangan tentang mereka, cobalah untuk terus memahani tentang mereka selagi mereka terus ada disampingmu. hal yang kau sesali adalah ketika kenangan itu hanya kamu nilai dengan kepahitan hidup. teruslah ingat kenangan itu akan indah bila dimaknai. setiap kejadian yang ada murni karena perbuatan kita yang telah ditakdirkan Allah. Jika nantinya hanya ada kenangan yang pahit percayalah dimasa depan akan ada akhir yang baik.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama