Penulis : Widy shahafiyyah

Ini bukan kisah yang mewah, yang dipandu dengan kata-kata mutiara. Bukan kisah tentang sang putri Raja, Tapi kisah tentang putri anak biasa. Butuh waktu selama bertahun-tahun untuk menggalaukan nasibnya dan bertanya yang selalu tak ada jawaban pastinya. Orang-orang disekitarnya bahkan memilih diam dan menghindar seakan gadis itu membawa penyakit yang menular disetiap langkah kecilnya.

Ia hidup sebagai santriwati di sebuah pesantren, menjalani hidup seperti biasa. Tapi ia kaku, ia ketakutan, khawatir, dan kesepian. Seberapa banyakpun orang yang berada disampingnya kini. Ia tetap merasa kesepian kala orang itu hanya membicarakan kekurangannya di belakangnya, yaaa tepat dibelakangnya. Orang-orang memang memperlakukannya bagai teman yang berharga, tapi membencinya di belakangnya. Ada yang tidak dia mengerti tentang kata benci itu. Kenapa ia harus dibenci, disaat dia mencoba untuk mengerti orang-orang disekelilingnya. Seharusnya ia yang mengucapkan kata benci itu.

Bertemankan pelajaran agama, tak sepenuhnya membuat  hatinya tentram dan menjadi santri yang bahagia. Masalah dunia terlalu mempersulitkannya. Ini bukan kisah tentang cinta, tapi tentang kerinduan pada setiap makhluk yang membencinya. Ia mencoba berbicara didepan mereka, tapi diacuhkan, ia mencoba meminta penjelasan tapi dia diacuhkan. kadang ia berfikir, apa ia harus membawa pisau dan mengamcam mereka untuk mau berbicara padanya.

Ia baru menyadarinya dimanpun dia berada, tak ada yang benar-benar tulus untuk mengenalnya. Hanya karena jarak kursi yang jauh, fitnah hanya semakin besar. Ia tak bersalah. Mereka yang saja yang malas untuk menyemangati diri sendiri, lalu menyalahkan gadis seperti dirinya. Mereka tak jauh berbeda dengan teman semasa kecilnya, Tapi ia berfikir kekejaman mereka lebih baik dari pada ditusuk dari belakang.

Lalu ia menjadi sangat aneh, berusaha sangat untuk mencari perhatian lebih, dengan mendramatisir segala kejadian. Melebih-lebihkan dirinya dalam semacam persahabatan. Demi menjadi yang terbaik diantara mereka lalu dengan mudah dapat di pengaruhi. Lalu memiliki emosi yang sensitif.

Katakan dia gangguan kepribadian berfikir semacam ini. dan jawabannya ia. Namanya personaly disorder histrionic, semacam gangguan pada kepribadian. Dirinya yang dulu yang normal berubah menjadi abnormal karena orang-orang yang ia coba untuk mengerti. Tapi ternyata tak semua orang bisa memahami itu, tak semua orang memiliki bisa memfungsikan hati nuraninya, Tak semua orang yang mampu untuk memahaminya. Sekarang giliran aku yang bertanya. Siapa yang mengalami gangguan kepribadian lebih dahulu, dia atau orang-orang itu. Tak taukah mereka gadis ini termenung, dan menagis setiap malam. menyadari dirinya seseorang yang sangat aneh sekarang. Ia tak ingin bertanya tentang keadilan tuhan, karena ia tau bgaimanapun caranya ia mengatakn tuhan tidak adil, akan ada jawaban yang mengatakan tuhan itu adil. Dan ketika ia bertanya apa manusia tidak bisa adil, ia selalu mendapatkan jawaban, mereka tak bisa adil.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama