Pertemuan dengannya tak pernah direncanakan, rasa ini pun hadir tanpa ku pikirkan sebelumnya, ia tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu, entah kan berhenti dimana, atau terus kemana, aku pun tak tahu.

Zahratul Khumaira, adalah nama yang diberikan oleh orang tuaku. Teman-teman memanggilku Zahra. Aku adalah seorang remaja yang baru beranjak 18 tahun, sekarang masih duduk di kelas II Madrasah Aliyah Swasta yang berjarak 5 Km dari rumahku.

Aku ingat, setahun yang lalu waktu masih duduk di kelas I, ketika itu aku bersama teman-teman baru bergabung dengan Lembaga Pengembangan Diri Madrasah bidang kejurnalistikan. Kami rajin mengikuti setiap pertemuan yang digelar para senior.

Waktu itu kami berencana akan menerbitkan tabloid, setiap anggota diberi tugas mengumpulkan berita. Saya bersama Fitri mendapat tugas mewawancarai Andi salah seorang murid berprestasi kakak kelas kami.

Setelah tertunda beberapa hari karena malu bertemu, akhirnya pada Kamis sore kami jadi juga mewawancarainya. Awalnya memang ragu-ragu karena gerogi dan akhirnya aku berani juga memanggilnya.

“Kak Andi, sibuk gak kak…? “ Untuk pertama kalinya aku berbicara dengan orang yang selama ini hanya ku kenal namanya saja.

“Gak kok, emangnya kenapa?” Dia menjawab pertanyaanku dengan suaranya yang yang khas.
“Kami mau mewawancarai kakak, bisa kan..”.
“Ohh.. bisa kok…”

Kamipun akhirnya duduk berhadapan dengan kak Andi, hanya dibatasi oleh meja saja. Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya, kami bertanya bergantian, sampai akhirnya Andi ingin menceritakan pengalamannya selama mengikuti perlombaan di luar daerah pada bulan lalu.

Obrolan pun semakin menarik, dan sesekali kami tertawa kecil terbawa alur ceritanya. Aku sangat menikmati suasana itu. Sambil menatap matanya dan mendengar suaranya yang khas, rasanya ada yang berbeda pada hati ini. Aku mulai menanam rasa kepadanya.

Ternyata kak Andi orangnya asik juga tidak seperti yang aku duga. Perkiraanku selama ini benar-benar salah, aku pikir dia orangnya jaim.

Selesai wawancara kami dengan tim asyik membincang-bincangkan kak Andi. Disepanjang perjalanan, yang kami bicarakan hanya dia aja. Kami baru tahu kalau dia orangnya asyik.

Hari-hari pun berlalu seperti biasa, tetapi ada yang tidak biasa yang aku rasakan. Ada sesuatu yang aneh terjadi dengan hati dan pikiranku. Aku terus memikirkan kak Andi, sering melamunkan dia, dan aku terasa senang ketika melihatnya

Pertemuan-pertemuan yang tak ku sengaja pun sering terjadi. Ketika aku dikantin, kak Andi juga ada di kantin. Ketika aku ke perpustakaan, gak taunya ia juga ada di situ. Aku semakin merasakan ada yang aneh dengan diriku, tetapi tidak berani menebak.

Aku pun menceritakan apa yang akan rasakan kepada Fitri dan Utami. Mereka berdua menertawaiku. “Kenapa kalian ketawa? kataku bertanya dengan ekspresi sangat polos.

“Ra, jangan-jangan kamu suka ya sama kak Andi?” Utami bertanya padaku..

“Oh.. dari mata turun ke hati ceritanya..?” tambah Fitri, “apa mungkin?? “jawabku..

“Kapan ya? Selama ini kami gak pernah tau kamu suka sama siapa.” Sanggah Utami.

Aku mulai berpikir, apa yang aku rasakan selama mengenal kak Andi. Tapi aku tak pernah mendapat jawaban apa yang aku rasakan saat ini. Dan itu sangat mengganggu hati dan pikiranku.

Hari-hari dalam hidupku terasa begitu cepat. Aku bahkan pernah chatingan dengan kaka kelasku itu.
Sampai akhirnya aku benar-benar yakin dengan perasaanku.

Aku mengilustrasikannya seumpama mendatangi rumah yang terlihat bersih dan kosong. Ada bisikan di kanan kiriku kalau ruangannya pernah dihuni dan di coret-coret orang.

Saat aku mulai meyakini perasaanku, satu persatu keburukan kak Andi mulai ku dengar. Aku berpikir kak Andi selama ini tidak pernah berpacaran, ternyata aku salah. Andi juga pernah pacaran dengan Nanda teman sekelasku.

Aku tetap berusaha untuk berpkikiran positif, dan berusaha menghilangkan keburukan kak Andi yang ku dengar dari teman-teman.

Beberapa hari lagi kak Andi ulang tahun, Utami dan fitri memberitahuku kalau Nanda sudah menyiapkan kado untuknya. Aku merasa tidak suka kalau Nanda masih dekat dengan kak Andi.

Di hari ulang tahunnya, aku mengirimkan ucapan selamat dan doa meskipun aku tidak memberinya kado. Kak Andipun mengucapkan terimakasih dan terjadi obrolan singkat di antara kami berdua.

Hari-hari berikutnya pun masih sama, kak Andi tidak pernah tahu  dengan apa yang aku rasakan. Aku tetap dengan perasaanku, dan kak Andi? Akankah nanti ia tahu dengan apa yang aku rasakan?. Yang jelas aku jadi sering bertemu dengannya, walaupun aku tak pernah merencanakan pertemuan kami.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama