Kamis, 27 November 2014 M – 3 Shafar 1436 H
Penulis: Wiza Novia Rahmi

ilustrasi
MTI Canduang - JUSTIC. Gadis itu tak lagi sanggup menahan goncangan RINDU ketika bait demi bait ia lontarkan untuknya. Sebuah buku yang  ia sebut “diary” itu hampir penuh, dan sedikit lembab.Namun tiada yang tau, diary mungil pun tak beritahu bahwa tuannya sedikit RINDU malam itu. 

Zara menatap kembali buku nan sudah lusuh, semenjak setahun silam ia memberi tinta pada lembaran demi lembaran, kadang berbau gelak dan tawa, namun lebih banyak sedih dan air mata, malam ini juga....
Seorang pemuda sederhana tak banyak bicara palingkan aku dari RINDU beberapa minggu terakhir, aku tak tau, apakah ini bercabang, ataukah berpaling? Dalam sendu ku harap hanya bercabang, tak ingin ku berpaling dari indahnya RINDU yang menyejukkan hati. Namun hari ini RINDU ku seolah hilang, dan digantikan oleh seorang pemuda sederhana tak banyak bicara...


“Selamat pagi langit biru”, ucapku setiap pagi dalam baris pertama diaryku... pagi ini, hanya kata itu yang baru tertulis mengawali senyum semangat di kelas ini. Kebiasaanku yang slalu datang lebih awal membuatku nyaman berada seorang diri di kelasku, menghafal, menulis, ataupun menangis, tapi tak terlalu lama, selang 15 menit, namun cukuplah untuk hatiku, seorang peRINDU... 

Pagi ini juga, aku menulis sebuah diary, menceritakan tentang kekejaman rindu yang tak pernah tau bahwa aku merindukannya. Seringkali aku berpesan pada angin untuk katakan rindu pada rinduku. Namun angin pun terlihat enggan.

Hari demi hari ku lalui dengan penuh rindu. Hingga akhirnya aku muak dan menemukan pengganti rindu. Karena aku berfikir barangkali saja rindu hari ini bukan rindu yang sebenarnya. Ya, aku menemukannya... Seorang pemuda sederhana tak banyak bicara _berbanding terbalik dengan rindu ku_ hadir ketika hampir saja kehidupan ku akan berakhir rasanya.

Farhan, teman-teman memanggilnya itu. Aku juga tak terlalu kenal namanya, pun orangnya. Namun ada sesuatu yang berbeda ketika hari demi hari kami tak sengaja bertatap mata. Seperti ada bisikan, tapi aku segera memalingkan wajah, terlalu sering. Namun barangkali aku yang terlalu over terhadap hal yang mungkin bagi orang lain biasa-biasa saja. Aku tak tau bagaimana, tapi ada sedikit rasa ketika teman-teman pun menangkap sinyal dari sebuah cerita yang tengah terlaksana.

Lalu aku berfikir mungkin ini rindu yang sebenarnya. Rindu yang juga benar-benar merindukanku. Mungkin selama ini aku salah, telah merindukan dia yang samar-samar. Yang bahkan aku sendiri tak pernah merasakan indahnya dirindukan.. yaa.. hanya merindu...

Ketika rindu tak kunjung tau, aku didatangkan dengan seorang pemuda sederhana tak banyak bicara, terlalu pendiam, dan sosok yang bahkan tak pernah terfikir aku akan memimpikannya.

Malam ini, rintik berguyur lembut di atas atap kamarku, amat lembut, barangkali hujan mengerti hati ku malam ini, tak seperti rindu yang amat pengecut. Namun sepertinya hujan memahami bahwa rindu pertama yang lebih afdhal, meski samar-samar. | JUSTIC

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama