Rabu, 12 November 2014 - 17 Muharram 1436 H
Reporter : Melawati

MTI Canduang - JUSTIC, Tidaklah mudah menggali apa yang sudah lama terkubur dan juga bukanlah perkara yang ringan untuk mencoba  mengumpulkan kembali apa yang sudah terlanjur terlupakan. Namun sesulit apapun itu, tahun 2011 lalu beliau tetap diberikan sebuah gelar penghormatan sebagai pahlawan Nasional. Mungkin tak banyak orang yang mengetahui seberapa besar kontribusi yang telah berikan dan diwariskan oleh Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka.

      Walaupun gelar pahlawan tersebut baru diberikan setelah tiga puluh tahun setelah beliau wafat, namun nampaknya hal ini tetap menjadi kabar gembira bagi masyarakat islam Indonesia, karena dengan begitu berarti Negara telah memberikan pengakuan terhadap segala bentuk kontribusinya bagi Indonesia. Walaupun tidak semua orang paham dan mengetahui betapa peran beliau cukup signifikan bagi bangsa Indonesia.

        Buya Hamka merupakan seorang sosok Ulama yang multitalenta yang mungkin tak banyak ditemukan di dalam sejarah panjang Bangsa Indonesia. Beliau dilahirkan pada tahun 1908 dan wafat  pada 1981 setelah beliau berhasil menyumbangkan banyak sekali ilmu pengetahuan agama yang kemudian diwariskan kepada generasi Islam Indonesia selanjutnya. Salah satu warisan dari seorang Buya Hamka adalah buku tafsirnya yang ditulis saat beliau berada di dalam penjara pada tahun 1964, yang dikenal sebagai tafsir Al Azhar. Hingga kini karya tafsir tesebut menjadi karya tafsir yang paling dibanggakan dalam sejarah umat islam Indonesia.

      Buya Hamka merupakan sosok ulama yang memiliki pengetahuan umum yang sangat luas, ia bahkan sempat menjadi seorang jurnalis di beberapa media lokal ketika masa mudanya dan bahkan ia  juga sempat menjadi seorang editor di majalah Al Mahdi, Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Sehingga dari pengalamannya tersebut, tak aneh jika beliau pun sangat produktif menulis dan membuat buku, tak hanya karya non fiksi tentang ilmu pengetahuan umum dan islam, beliau juga tak kalah aktif dalam menulis buku fiksi, beberapa karya sastranya yang terkenal sampai saat ini adalah novel maupun cerpen juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti: Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

     Beliau begitu luar biasa dibidang penulisan dan keilmuan, karir beliau di dunia pendidikan juga cukup berkilau. Beliau juga pernah menjadi seorang guru pada tahun 1927 kemudian beliau juga pernah menjabat sebagai rektor di Perguruan Tinggi Islam Jakarta serta menjadi Guru Besar di Universitas Mustopo Jakarta. Hingga puncak dari karir akademisnya ini adalah ketika tahun 1959 beliau menerima predikat kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Al Azhar, Mesir.

      Begitu besar kontribusi beliau untuk dakwah islam pada khususnya dan untuk kemajuan Indonesia pada umumnya, hal tersebut jelas terlihat ketika beliau bersedia mengambil peran sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada tahun 1975. Dalam perannya sebagai seorang Ulama Indonesia beliau begitu mendukung segala bentuk kebijakan yang dilakukan oleh Presiden pada zaman tersebut, yaitu Soeharto. Namun beliau menolak kebijakan pemerintah yang memintanya untuk membatalkan Fatwa MUI tentang hukum merayakan Natal bersama umat nasrani. Beliau tetap tegas pada keyakinannya untuk tetap menegakkan aqidah yang kuat bagi masyarakat Indonesia di atas sebuah kata toleransi.


Sampai saat ini pun kontribusi beliau begitu terngiang-ngiang di pikiran para murid-muridnya maupun siapa saja yang pernah membaca karya-karya beliau. Beliau merupakan Ulama yang luar bisa yang pernah dimiliki oleh umat Islam Indonesia. Beliau begitu mulititalenta. Seakan segala kelebihan yang ada pada dirinya benar-benar milik umat dan beliau begitu dekat dengan seluruh lapisan masyarakat. Dan tentunya dengan segala pengorbanannya untuk Bangsa dan Negara beliau layak menyandang gelar pahlawan Nasional. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama