Rabu, 24 September 2014 M - 29 Dzulqa'idah 1435 H
Penulis: WIZA NOVIA RAHMI

Terlalu condong pada murid pintar kadang menimbulkan kecemburuan sosial di tengah gejolak ilmu yang seharusnya didapat sama rata. Keinginan dan kerja keras kadang  tak terlalu diperhatikan. “Aku memang belum dewasa. Tapi aku bisa merasakan perbedaan ketika perlakuan terhadap mereka agak lebih”, demikian katanya.

ilustrasi
Di sebuah sekolah ternama di kelas ternama pula, duduklah seorang murid yang bisa dibilang pintar namun di-cap pemalas karena sering absen ketika dalam belajar. Absen ini bukan tanpa alasan, sakit, itulah alasan pertama dan utamanya. Raihan, begitu orang memanggilnya.

Menjalani bangku terakhir dari pendidikan tingkat atas membuat dirinya tak lagi ingin absen ketika jam pelajaran berlangsung. Namun, semangat dan niat baiknya ini justru dijadikan cemooh oleh beberapa guru yang memasuki kelasnya. Merasa tertindas dan selalu disalahkan.

Entah apa penyebab awalnya, yang jelas sampai detik ini, rasa itu masih menggeliat di hatinya. Ingin meminta maaf jika memang bersalah, tapi begitulah. . . apalah yang bisa dilakukan pemuda kecil sepertinya.

“Raihan, kemana kemarin.?” “sakit bu” “apa benar sakit? Kenapa kamu selalu sakit?” “benar bu, tak mungkin saya berbohong pada ibu” “ah, saya sudah tidak percaya lagi, kamu selalu berkata begitu” (diam)

Demikianlah kira-kira cuplikan kata seorang pendidik kepada Raihan. Tanpa rasa perhatian. Atau mungkin beliau sudah faham dengan gelagat Raihan. Namun saat itu Raihan benar-benar jujur, tapi apalah daya, tiada pendengar setia. Tak terasa, setetes bening melantun daripemuda kecil yang beranjak dewasa.

Istirahat pun tiba, Raihan sudah tak sanggup lagi, ia beranjak ke mushalla sekolah untuk menenangkan fikiran. Yaa. Raihan melakukan Shalat dhuha. Kemudian ia mencurahkannya pada Tuhan sembari berucap “tuhaann, masa ku dulu mungkin tak sebaik sekarang. Aku sadar aku belum dewasa. Bukannya menasehati, aku malah disalahkan, terus dan terus. Aku merasa  tertindas. Selalu saja begini. Bolehkah menangis, Tuhaan?? Tiadakah upaya bagi ku untuk perbaikan diri.?

Tak hanya curhat pada tuhan, Raihan juga menceritakan pada Raisa, sahabat masa kecilnya, ketika akan pulang sekolah.”ku akui dulu aku sering ga’ masuk Rais, tapi itu dulu, aku sadar, dan sekarang kesadaranku hampir sempurna. Tapi kenapa sepertinya tidak ada yang menerima ku..? seolah semua enggan dan masih menganggapku seperti dulu. Aku pun tak faham, dari segi pandang manakah seorang murid dianggap baik oleh beliau, Rais.?? Apa tak boleh beralih pada kebaikan. Tolong jelaskan pada ku Rais..”

“Raih, ndak boleh berfikir begitu. Kalau kamu benar-benar ingin berubah, nampakkan perubahan mu, kata-kata beliu jangan dijadikan cambuk, tapi jadikanlah penguat dan penyemangat untuk hidupmu kelak. Sekarang kamu sudah berada di tingkat akhir di sekolah ini, apa kamu mau ketika berpisah dengan beliau nanti sikap mu masih aja seperti ini..??”

“Aku ndak ingin Rais, aku benar-benar ingin berubah. Betul kata mu, ucapan beliau itu harus dijadikan penyemangatku” ucap Raihan dengan sedikit senyum namun masih ada sedikit guratan kesedihan. Barangkali karena kata-kata beliau yang seringkali begitu.

Keesokan harinya kembali Raihan dilanda goncangan, namun dengan pendidik yang berbeda. Seolah tiada yang berpihak padanya, padahal dalam hati kecilnya ingin sekali menjelaskan pada beliau dan mereka. Hmmm... Di kelas pun, banyak teman-teman yang tak menyukai Raihan. Entah lah...

Hari-hari yang tak bersosialisasi dijalani Raihan dengan penuh semangat, dan tentunya dengan sedikit motivasi juga dari kata-kata yang dilontarkan Raisa.

Kini Raihan hanya bisa berdoa, semoga tuhan membuka mata hati beliau dan teman-temannya agar percaya kembali padanya, bisa menerimanya, dan tentunya tak lagi disalahkan dan meraasa tertindas dari mereka.

“Jangan hanya menilai seseorang dari masa lalunya saja, barangkali dahulu  memang seperti itu tabiatnya, namun tiada selamanya. Bisa saja masa depan telah baikkan harinya sehingga tiada lagi seperti dulu. Jika mereka baik, baik jua lah padanya..” | JUSTIC - 005


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama