27 Agustus 2014 - 1 dzulqaedah 1435 H
Cerpen oleh : Widya Wahyuni
ilustrasi
Masih dengan sebuah misteri yang tersimpan dalam sebuah kehebatan seorang perempuan, tak ada satu ilmuan satupun yang bisa menjabarkan dengan rangkum tentang kehebatan dan ketegaran seorang wanita. dibalik tangisan mereka tanpa alasan disana tersimpan satu kekuatan yang pernah terjabarkan dengan sempurna. satu kisah dari beberapa kisah beberapa orang perempuan menceritakan tentang ketegaran mereka.
Pagi itu, dipesantren di sumatera barat. Seorang gadis tengah sibuk menghela nafas bosan dengan kegiatan apel pagi yang selalu dilakukan dipesantren itu. Ia terus saja berkata-kata dalam hatinya tentang apa gunanya apel pagi ini. padahal dari sebegitu banyaknya ceramah yang guru berikan tak ada yang mendengarkannya secara utuh, apalagi mempraktekannya. sungguh hal itu sangat menghabiskan waktu. Perhatiannya beralih pada langit yang diselimuti oleh awan putih, ia kembali menghela nafas. tak terasa pikirannya melayang pada kenyataan hidupnya yang pahit.
gadis itu tak akan pernah menyangka kehidupannya begitu mengharukan, tak akn pernah ada yang bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika ayah kandungnya sendiri hampir menghancurkan masa depannya yang selalu tergambar indah. jika saja saat itu ia sendiri, jika saja ayahnya benar-benar terhalang nafsu, dan jika saja banyak yang lain mungkin ia takkan berada disekolah yang sangat ia cintai ini. dengan berbagai ragam teman yang selalu menemaninya dengan tawa dan senyuman, semangat dan kehidupan. ia selalu tertawa dengan hidupnya ketika ia ingat dengan kata-kata semangat yang selalu ia katakan pada temannya yang benar-benar putus asa dengan hidupnya, bagaimana temannya yang meresa hidupnya lebih menyedihkan dari hidup seluruh manusia didunia ini. Tapi ia sendiri merasa menyerah dengan semmuanya, ia selalu memendam semuanya sendiri. malu jika orang lain tau dengan kejadian yang hampir menjadi aib besar itu.
Tak terasa seorang guru masuk ditengah lamunannya yang panjang. ia adalah ustadz syafrizal, gadis itu membayangkan bagaimana kalau gurunya itu adalah ayahnya, mungkin hidupnya akan tenang tanpa fikiran berat yang tak bisa ia tanggung lagi.
" semua akan ada dengan semangat dan keyakinan, kalau uang nomor sekianlah. kamu jangan berhenti, ilmu itu adalah hal yang penting, mengerti" jelas ustadz syafrizal.
gadis itu selalu menyimak semua, semua semnagat yang membuatnya lebih hidup dan berarti. ia ingat dirumah masih ada ibu yang menantinya dengan harapan. jika ibunya tidak berhenti berharap dan berjuang dengan panas matahari untuk memperjuangkannya di pesantren itu.
" ustadz apa kita boleh membenci ayah kita, jika ia menorehkan luka yang dalam ustadz?" tanyanya dengan ragu dan dada yang bergemuruh.
ustadz syafrizal tersenyum lembut. "sejahat apapun orang tua kita dia tetap orang tua kita.. tuhan itu ada, allah itu tak pernah tidur, do'akan mereka agar allah menjadikan mereka menjadi lebih baik"
Ustadznya benar, sekejam apapun ayahnya hatinya tak pernah bisa memebenci, ia tak bisa menghilangkan cinta yang ia sediakan untuk ayahnya.  Karna ia sangat menyanyangi ayahnya, meski dari luar ia terkesan menyayangi ibunya.
Dunianya terasa menghimpit kembali kala sang ibu pergi untuk selamanya, fikirannya kosong siapa yang akan melindunginya dari ayahnya. ditengah hiburan yang ia dapat dari guru dan temannya ia hanya memiliki satu fikiran, masa depannya. ia merasa masa depannya kembali hilang ketika ia ingat ia hanya akan tinggal berdua dengan ayahnya saja. tiba-tiba semua berubah, tak ada lagi akal sehat, tak ada lagi ia. yang ada hanya dirinya yang berubah menjadi gila. ia tertawa dan menangis, meraung dan berteriak. hanya itu yang ia tau.
Dibalik itu sang ayah merasa penyesalan yang mendalam, hatinya terus bertanya. iakah penyebabya atau kepergian istrinya?. selalu mengajak anaknya berbicara, tapi sang anak hanya menjerit ketakutan. tak lama tangan laki-laki paruh baya itu selalu terulur mengadu pada yang kuasa. memohon ampun dengan kesalahannya serta mengembalikan anaknya yang telah terzhalimi olehnya sendiri. setiap malam dan siang tangis tak pernah berhenti. malam itu disa'at tangis tengah begelinang, seorang gadis berdiri dibelakangnya juga dengan linangan air mata. Sang ayah menyadarinya dan berbalik kebelakang, ia tersenyum melihat anaknya yang juga tengah tersenyum padanya.
" ma'afkan ayah nak, ayah benar-benar minta maaf. benci ayah tapi jangan acuhkan ayah...." racaunya. perlahan sang anak merangkul ayahnya dan berbisik tepat ditelinga sang anak.
" ayah, seberat apapun beban dunia yang kau tangguhkan, sesakit apapun pisau yang kau tancapkan, segila apapun aku karna taku padamu. AYAH,... I STILL LOVING YOU"
Hari itu semua berakhir dengan pelukan hangat dan nyaman antara ayah dan anak, antara cinta dan benci yang tak berbeda jauh.......
Ustadz pernah mengatakan ini padaku, jika kau merasa sedih, tersakiti dan terbebani minta tolonglah pada Allah, karna Allah tak pernah tidur dan akan selalu ada dihatimu bahkan lebih dekat dari pada urat nadimu sendiri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama