Selasa, 27 Syawal 1434 H - 3 September 2013 M
Oleh: Zul 'Ashfi

Zul 'Ashfi
Cukup membuat tersenyum saat membaca postingan Ust. Fitra Yadi tentang kunjungan anggota Ittihad al-Mudarrisin al-Duwali Li al-Lughah al-'Arabiyyah ke MTI Canduang.

Membayangkan para santri mengerumuni orang Arab, lalu -mungkin- ada di antara mereka yang berbicara dalam hati; "Mau ngomong...malu, takut salah, ga ngomong...tapi pengen". Meski begitu ada saja santri yang memberanikan diri berbicara dengan orang Arab itu meski terbata-bata (bahasa hadisnya; tata'tu') dengan perbendaharaan dialog bahasa Arab yang terbatas.

Dan syukur sekali orang Arabnya sangat memahami maksud si santri. Konon katanya orang Arab yang tidak/kurang berpendidikan jika mendengar orang non-Arab berbicara bahasa Arab pas-pasan akan ditertawakan (meski tidak tertawa). Jangankan berbicara dengan bahasa pas-pasan, berbahasa Arab fusha saja dihadapan mereka pun kadang ditertawakan. Konon seperti itu. Tapi tidak tahu juga bagaimana pengalaman Uda Zami di Afrika sana dengan penduduknya.



Suatu kali, tahun 2004 saat tiga orang santri MTI pergi ke Masjid Raya Bukittinggi untuk shalat jum'at, yang mana sekitar pukul 13.30 setelah jum'at langsung berangkat ke rumah imam masjid raya; Buya Rusydi Kinan, Lc untuk menyetorkan hapalan al-Qur'an kepada beliau, sebagai rutinan setiap hari jum'at. Sekembali dari rumah beliau, ketiga santri itu mampir di toko sabila dekat jenjang gudang Bukittinggi.

Disana mereka bertemu dengan tiga orang siswa MAPK Koto Baru. Sejenak mereka saling berkenalan hingga tentang background pendidikan. Para siswa MAPK yang terkenal dengan Hiwar sekolah mereka berbasa Arab itu mencoba mengajak tiga santri MTI itu dialog dengan bahasa arab setelah mereka mengetahui tiga siswa itu adalah santri MTI, (rehat; 3 vs 3).

Mereka memulai dialog itu, diantaranya adalah pengulangan dari dialog bahasa Minang yang tadinya, lalu berlanjut ke permasalahan lainnya. Full Arabic...!!! Sungguh tiga santri ini tak gentar menghadapi dialog bahasa Arab siswa MAPK itu. Diakui memang bahasa mereka saat itu cukup bagus dan lancar plus berani mengungkapkan bahasa.

NAMUN...!!! Tiga santri MTI itu secara bergantian tak kalah gesit melayani dialog mereka dengan full Arabic, dengan tangkas dan lancarnya mereka saling balas dialog dan akhirnya siswa MAPK itu memutuskan dialog ini dengan kembali berbahasa Minang. Mereka bilang; "Kami kiro anak Canduang dak bisa mangicek jo bahaso arab, hehe". Ternyata mereka cuma ingin menguji anak MTI.

Jadi memang dalam pandangan sekolah-sekolah lain bahwa MTI memang tidak bisa dialog berbahasa Arab, karena lebih memprioritaskan diri untuk mengkaji yang tertulis. Sejatinya ini untuk konteks sekarang adalah sebuah ketimpangan, dan semestinya ditingkatkan agar seimbang antara Qira'ah dan Hiwar.

Intinya, pada tahun 2004 saat tiga orang santri MTI itu sedang duduk di bangku kelas 6, jurusan MAK MTI masih ada. Dan kabarnya separuh kedua tahun 2005 sudah tidak ada lagi. Jika ini benar maka tiga santri ini dan kawan-kawan seangkatan mereka adalah santri MAK terakhir di MTI. Hmmm...meski begitu ini bukanlah soal MAK, MAU, dll. Namun soal figur, contoh, motivator, pemboyong. Yakni, saat itu ada seorang guru dari luar MTI yang sengaja diberi honor oleh MTI untuk mengajar bahasa Arab, khususnya santri MAK. Guru itu disamping memotivasi, ia juga menguasai bidangnya. Ia tidak hanya mengajarkan santri berbicara bahasa Arab, namun ia juga menguasai dialog bahasa Arab itu sendiri.

Itu lah sebabnya tiga santri itu begitu tangkasnya berbahasa Arab. Bukan berarti mereka menghapal semua kosa kata Arab, namun karena mereka telah dimotivasi untuk berani bicara, dan ketika keberanian ini muncul dan tumbuh, maka kosa kata yang terdapat dalam kitab-kitab yang dipelajari di MTI itu tak jarang yang termemorikan dalam otak yang kapanpun siap diungkapkan dengan lisan dalam dialog tanpa berpikir panjang.

Intinya; faktor motivator yang menguasai apa yang ia motivasikan. Disadari memang, motivator itu tidak mengajarkan santri agar bisa bicara bahasa Arab 100% dengan baik. Tidak, namun dorongan dan motivasi itu yang membuat santri melejitkan potensi dirinya sendiri, sehingga jadilah dia santri yang sukses, tidak hanya mengerumuni orang Arab tanpa mengerti apa yang diucapkan orang Arab itu.

Memang, cita-cita MTI ini sedikit banyaknya masih tertera di makam Inyiak Canduang dan juga masih bisa ditangkap dari isi ijazah Tarbiyah. Yakni lebih memprioritaskan Istinbath hukum, jika berhadapan dengan permasalahan fikih. Yang tentunya tidak boleh lepas dari Nahwu dan Sharaf. Meski begitu, MTI juga tidak boleh seperti Pesantren Darussalam Gontor yang lebih memprioritaskan berbicara daripada mengkaji alat bicara itu sendiri. Akhirnya mereka banyak yang tidak sebaik pesantren-pesantren salafiyah dalam memahami ilmu alat. Kalaupun dikatakan mereka pintar berbahasa arab, juga tidak. Bahasa Arab mereka adalah bahasa Arab gontor, bukan bahasa Arabnya Arab. Di Jakarta, khususnya di UIN mereka sering ditemukan.

Dan perlu sedikit disampaikan, UIN memiliki satu fakultas yang 100% mengadopsi kurikulum di fakultas yang sama di al-Azhar Mesir atas kerjasama yang ditandatangani sejak lebih satu dekade terakhir. Fakultas Dirasat Islamiyah. Bedanya dengan yang di al-Azhar, di al-Azhar tidak ada yang namanya skripsi dengan metode tertentu, di Fakultas ini diwajibkan menuliskan skripsi dengan bahasa Arab, kosentrasi apapun. Persamaannya adalah, sama-sama pengantar bahasa Arab (full arabic), bahkan terkadang mata kuliah bahasa Inggrispun dijelaskan menggunakan bahasa Arab, dan dosennya pun sering dari al-Azhar.

Ditambah lagi, di dekat UIN ada Darussunnah International Institute for Hadith Sciences, sebuh perguruan tinggi ilmu hadis bercorak pesantren yang mengkhatamkan beberapa kitab selama empat tahun, termasuk kutub sittah. Juga pengajarannya menggunakan bahasa arab full.

Kembali ke santri Gontor, benar sekali mereka berani bicara, namun bahasa mereka tidak sebaik anak MTI jika berbahasa Arab. Sangat jarang anak Gontor yang bisa masuk kelas A di Fakultas ini, karena penentuan kelas berdasarkan nilai bahasa Arab. Begitu juga dengan Darussunnah, hingga saat ini belum satupun anak Gontor yang sukses memasukinya meski mereka banyak juga yang mendaftar, apalagi dari ratusan pendaftar yang ikut tes, yang diterima hanya 40 mahasantri (putera/puteri).

Namun anak MTI, selalu menduduki -boleh dibilang- lokal unggul di Fakultas itu. Begitu juga di Darussunnah ini, Jumhur anak MTI yang turut seleksi di Darussunnah ini lulus, dan bersaing dengan santri-santri Lirboyo, Tebuireng, Sidogiri, dll. Dan alhamdulillah, beberapa santri MTI yang melanjutkan pendidikan di salah satu atau dua instansi pendidikan ini sama sekali tidak ada permasalahan jika mereka harus berdialog dengan orang Arab. Ketika orang Arab, contohnya dosen Arab berbicara, alumni MTI itu tidak memproses terlebih dahulu apa yang diucapkan orang Arab itu di dalam otak untuk ditranslet dan barulah mereka paham. Tidak. Bahasa Arab bagai bahasa sendiri, tidak perlu proses translet di dalam otak saat mendengar begitu juga saat mengucapkan. Intinya ada motivasi, semangat, kemauan. Dan bahasa arab adalah salah satu bahasa internasional.

Dari pemaparan singkat ini -utamanya tentang santri Gontor karena mereka adalah icon lughah arabiyah-, bukan berarti MTI boleh berbangga diri, namun dari situ kita belajar, tingkatkan kemampuan, lejitkan potensi yang ada. Karena status ini adalah tentang bagaimana santri MTI candung mampu dan berani berbahasa arab, maka santri MTI harus berlatih, dan buang kebiasaan tidak baik saat membaca kitab kuning, yaitu; menuliskan terjemah kosa kata kitab dengan bahasa Indo atau arab melayu. Ini tidak akan memperkaya bahasa santri. Kalaupun akan ditulis, seharusnya yang ditulis adalah sinonim dari kata itu yang juga berbahasa arab, misal; Jalasa, disinonimkan dengan Qa'ada, terlepas dari perbedaan faedah masing-masing kata. Kamus atau Mu'jam Arab to Arab sudah sangat banyak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama