Selasa, 27 Syawal 1434 H - 3 September 2013 M
Dilaporkan oleh: Fitrayadi

MTI Canduang-Justic, Banyak komentar dan masukan muncul di sosial media menanggapi pemberitaan Justic tentang kunjungan peserta Muktamar IMLA dan penerapan berbahasa Arab di pondok pesantren MTI Canduang. Disini kami pilihkan beberapa komentar.
 
Najwan A. Shamad:
sdh seharusnya managemen MTI memprogram kegiatan utk mningkatkan kemampuan berbahasa Arab, walau bagaimana bahasa Arab bukan bahasa Nahu/Sharaf saja, tapi adalah bahasa komunikasi dunia,....lucu juga ahli Nahu dan sharaf tapi tidak mampu berkomunikasi dgn menggunakan bahasa Arab..... Orang Barat saja bisa berbahasa Arab fushah, kenapa kita tidak bisa......?????


'Ashfi Raihan:
Sebagai tambahan, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Lirboyo Kediri, dua buah pesantren di Jawa Timur yang lebih tua dari MTI, adalah pesantren salafiyah yang memiliki corak sama dengan MTI. Dua pesantren ini biasanya merajai lomba baca kitab tingkat nasional, dan mungkin pernah bertemu dengan santri MTI yang sempat ikut dalam perlombaan itu, mereka hapal Alfiyah, Nazham Balaghah, dll. Untuk kurikulum, apa yang kita pelajari, mereka pun pelajari, begitu sebaliknya. Namun terkadang ada kitab MTI yang tidak mereka pelajari kecuali setelah tingkat ma'had ali, seperti kitab Dasuqi syarh Ummul Barahin, dan syarah al-Hikam. Meski begitu setidaknya ada tiga hal yang dapat kita ketahui dari mereka;

1. Meski mereka adalah para Kitabers, namun mereka juga gesit berkomunikasi dengan bahasa arab.
2. Dalam mempelajari kitab kurikulum, mereka khatam. Tak cukup dengan itu, secara bersama-sama mereka juga memanfaatkan waktu lainnya untuk mengkaji kitab-kitab pendukung lainnya, seperti kitab Qawaid Ahkam Fi Mashalih Anam kry Izzuddin bin Abdissalam (sebagai pendamping Asybah wa Nazhair karya Suyuthi). Begitu juga kitab Tuhfatul Muhtaj kry Ibn Hajar, Nihayatul Muhtaj kry Ramli, Mughni Muhtaj kry Khathib Syirbini, yang mana ke tiga kitab ini adalah syarah dari Minhajuthalibin kry Nawawi. Kitab ini juga mereka kaji di luar jam kurikulum sebagai pendamping Kanzurraghibin kry Mahalli. Intinya mereka selalu memperkaya diri dengan literatur lainnya, dengan cara diskusi dan bahtsul masail. Bahkan waktu luang anak MTI lebih banyak dari mereka. Siang malam mereka belajar, tentunya dengan asrama yang sangat memadai. Banyak di antara mereka yang lihai ushul fiqh, qawaid fiqh, serta maqashid syariah meski masih di bangku sekolah. Walhasil, isu-isu kontemporer bagai isu renyah bagi mereka untuk dibahas tanpa sedikitpun mereka lepas dari kitab-kitab turats. Secara konsep, isu2 kontemporer sudah dapat dipecahkan dengan ushul fiqh, qawaid fiqh klasik. Jadi tidak ada unsur tertinggalnya kitab-kitab turats itu.

3. Poin ini tidak kalah penting, tidak hanya membaca dan mempelajari kitab-kitab itu, mereka juga mengenal penulis kitab tersebut berikut tahun wafatnya. Agaknya tidak sopan jika menggunakan barang bukan milik kita namun tidak tidak tahu siapa pemiliknya. Di samping intelektual, unsur spiritual tidak bisa dikesampingkan. Mendoakan agar Allah menyampaikan pahala bacaaan al-Fatihah kepada penulis kitab tentunya sedikit banyak akan menjadi sebab terbukanya wawasan santri ketika membaca karya2 mereka. Inilah sisi spiritualnya. Dan ini pun sudah menjadi hal yg biasa ditemukan di kalangan pesantren jawa.

Pernah suatu kali alumni MTI yang belum beberapa tahun ini tamat dari MTI, di sela-sela obrolan dengan mereka saya menanyai mereka; Siapa penulis kitab Dasuki? Mereka tidak tau. Saya tanya lagi, siapa penulis kitab Mahalli. Juga tidak tau. Padahal sengaja saya tanya nama kitab yang terkenal dengan nama itu di MTI, dan nama kitab itu adalah nama penulisnya juga. Kitab Dasuki adalah Syarah Ummul Barahin, ditulis oleh Syeikh al-Dasuqi. Meski sebenarnya yg kita pelajari adalah Ummul Barahinnya. Kitab Mahalli adalah Syarah Minhaj Thalibin, ditulis oleh Imam Mahalli. Meski nama kitabnya adalah Kanzurraghibin. Mengenal nama penulis sering dianggap sepele, ini sangat disayangkan. Anehnya anak MTI itu lebih kenal kitab Ihya' pdhl tidak dipelajari di MTI, namun tidak kenal dengan penulis al-Aqwal al-Mardhiyyah. Semoga MTI jauh lebih baik lagi...

Uda Zami:
... alhamdulillah ambo banyak istifadah dr kawan2 lirboyo, tebuireng dll disiko. memang mereka mambaco kitab tu dahsyat jadi mau dak mau tertantang untuk samo jo mereka. apolagi kalau ikuik talaqi di azhar harus banyak baco dan paham (kok ndak nyo hariak dek syekh). kito di mti sabananyo dak kalah doh, cuma mungkin ado beberapa point yg harus dibenahi. (kok dak tau jo penulis aqwal mardhiyah yo basijadi nyo tu mah).

oh yo ciek lai, di canduang kito dalam baco kitab acok langsuang malompek se ke pembahasan sahinggo dak takaji manhaj penulis kitab nan ado di tamhidnyo. jadi wajar info ttg penulis jadi kabur dan ahammiyah kitab dak nampak. di azhar, panah kami baraja kitab tamhid imam isnawi, butuh satahun untuak mangaji bab pembukaan nyo sajo. kitab minhaj qadhi baydhawi butuh sekian bulan untuk mangaji pembukaannyo sajo

'Ashfi Raihan:
Apo lagi muqaddimah ibni khaldun... dari awal hingga akhir muqaddimah se. Muqaddimah Kitab al-'Ibar wa Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar.

Uda Zami:
hahaha atau bidayatul hidayah, bidayah se sampai akhir dengan mambaco muqaddimah atau tamhidnyo, akan nampak asyiknyo kitab nan dibaco. di azhar, majelis partamo dan terakhir dari satiok kitab ado haflahnyo, dihadiri pembesar ulama, masing2 mancaritoan faedah nan ado seputar kitab, sahinggo nan mangaji pun jadi dapek lamaknyo jo kitab nan dibaco. kok dapek, awak di canduang mode tu juo, paliang indak di pertemuan partamo diisi dengan bacarito seputar kitab nan akan dikaji, mudah2 lai tabik keinginan murid untuak terjun dalam nikmatnyo ilmu kitab tu. Justic

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama