Rabu, 21 Muharram 1434 H / 5 Desember 2012 M

MTI Canduang - Justic. Sudah pandangan yang biasa ketika hendak ujian semester diselenggarakan, sekitar 800 Santri di Mti Candung harus berdesak-desakan untuk membayar SPP /uang ujian, ada yang bersabar menanti, dan ada pula yang penuh emosi menunggunya,"wak lai buk - wak lai buk" teriakan menggema di sekitar ruang pembayaran.

Berbagai cara dikerahkan para Santri agar SPPnya sampai diruangan, pembayaran ada yang menunggu diluar dan sampai-sampai menerobos masuk kedalam ruangan bendahara dan meminta dekingan kepada guru mereka masing-masing, perjuangan ini semata-semata hanya untuk mendapatkan sebuah harga yang sangat mahal dari emas yaitu STEMPEL kata LUNAS.

Dilapangan, tim Justic menelusuri mencoba menguak misteri salah satu adat tradisi di MTI candung ini,"Ba'a dek baru kini lo bang bayia SPPp bang, kama bang salamo ko?" kata Tim Justic bertanya kepada salahseorang Santri. "Yo sekolah ndak ado mamaso mambayia capek- capek patang tu,vtu pada kesempatan kinilah sakolah mamaso,"ujar Muslim Ja'far yang sedang antrian".

Entah tentang siapa yang salah, sekolahkah atau para santrinya? ya kalau berbicara tentang salah tidak ada yang bisa dipersalahkan. Bukannya dunia sudah maju segala sesuatu yang sangat sulitpun bisa jadi mudah,? tak pernahkah terfikir tentang anjungan tunai mandiri kerap disapa ATM ini? Memang betul ATM sangatlah mempermudah administrasi pembayaran uang spp, "janlah hilang adat kebiasan ko sebab, bukan Tarbiyah jikalau orang antri sebelum ujian" papar kakak-kakak kelas itu mengantri.


Dilaporkan oleh: Afridho azizi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama