BAB. XII.
KEMBALI KETANAH AIR

Canduang adalah sebuah desa pertanian yang luas dan subur terletak dibawah kaki gunung Marapi dengan suhu udaranya yang sejuk. Disinilah bermukim dan menetap “Inyiak Canduang” memimpin pengajian “Halagah”(duduk bersila) disurau Baru Canduang. Tahun 1903 beliau berangkat kenah suci menunaikan ibadah haji, – Selama tiga tahun di Makkah al Mukarramah beliau belajar mengaji disana dengan:

1. Syekh Ahmad Khatib al- Minangkabauwi (Mufti Mazhab Syafi’i), yaitu seorang guru yang terkenal dan termasyhur berasal dari Balaigurah, Biaro, Kecamatan IV Angkek Canduang sudah lama menetap disana
2. Syekh Nawawi al- Banteni, asal Banten
3. Syekh Muchtar Attarid, asal Bogor
4. Syekh Muhammad Syatha, asal Makkah
5. Syekh Said Umar Bajened, asal Kalimantan
6. 6. Syekh Sa’id Babasil al-Yamani asal Yaman,
7. 7. Syekh Usman Serawak, asal Serawak
8.
Selama di Makkah beliau sesungguhnya belum mau pulang ketanah air, mengingat beliau belajar belum selesai, akan tetapi, ditahun ke tiga belaiu disana, ketika beliau didatangi oleh rombongan calon jema’ah haji membawa pesan dari keluarga beliau, “menyuruh segera pulang”,

Sekembali dari Makkah, menunaikan ibadah haji, beliau sudah berhak menyandang titel spritual (Haji) dalam keseharian beliau dipanggil sebagai Haji Sulaiman, lebih dibesarkan lagi dipanggil sebagai Syekh Sulaiman Arrasuli atau “Inyiak Canduang” Kedatangan beeliau disambut keluarga, murid dan masyarakat. Ibunya merasa beruntung, karena anaknya sudah menjadi seorang Ulama,

“Sengsara membawa nikmat”

Beberapa tahun kemudian, selama di Candung nama beliau semakin menajak kharisma kepemimpinannya pengaruh beliau semakin besar dan semakin berkembang dimasyarakat. Dalam adat Minangkabau beliau dipandang mampu dan piawai sebagai ahli Adat.

Rupanya kharisma kepemimpinan beliau tidak selanggeng kita bayangkan, setiap gerakan beliau bersama pengikut beliau ada juga yang tidak senang, contohnya pada suatu ketika disaat bulan puasa pekarangan rumah beliau kotor ditumbuhi semak, karena tidak sempat membersihkan. Memang saat itu peraturan yang masih dibawah kekuasaan Belanda sangat ketat, mulai dari bergotong royong (rodi), membayar bleezting sampai kepada kebersi han pekarangan.

Memang, waktu itu pekarangan rumah beliau sematam tidak terurus, karena dibulan puasa, biasanya murid=murid beliau yang membantu membersih kan, saat itu sedang libur, murid berilaiu sedang pulang kampung. Pada kesempatan itulah Syamsuddin St. Rajo Malenggang Lareh Canduang melaporkan kepada tuan Kontroleur di Ford de Kock (Bukittinggi). Memang selaama ini hubungan antara Buya Syekh Sulaiman Arrasuli saling tuding menuding, sehingga hubungan antara petinggi spritual dengan penggi Kalarasan tidak menguntungkan sebagai “tali tigo sapilin” . Maka dengan kesalahan pekara ngan yang tidak akibat dilaporkan sang Lareh kepada Kontroleur, “Inyiak Canduang” dipanggil ke Megistret di Ford de Kock dengan Ketua Pengadilannya tuan Kontroleur sendiri.

Dipersidangan meja Hijau, terjadi tanya jawab dengan tuan Kontroleur merangkap sebagai hakim:

“ Saudara tuan Haji Sulaiaman, Betulkaah pekarang
an saudara kotor?”. Betul tuan.

“Kenaapa sampai kotor, apa tidak dibersihkan?”

Tanya Hakim lagi.

“Saya tidak sempat tuan, Saya sedang berpuasa. Un-
tuk tuan ketahui, kami ummat Islam dalam bulan pu-
asa ini, bagaikan musang, siang tidur, malam hari ba-
ngun beribadah di Masjid”

“Oh...................begitu”, jawab Hakim Ketua heran,

Akhirnya dijatuhi hukuman buat Syekh Sulaiman Arra
Suli, hukum denda sebanyak f. 10(sepuluh gulden).

“Baik tuan, seraya merogoh koceknya”. Lansung mengeluarkan uang dan membayar diserahkan waktu itu juga.
“Oh.....Bukan sekarang”, nanti seminggu lagi datang kesini dan diserahkan kepad Jaksa, ucap Hakim itu.

Dalam kondisi demikian, atas keputusan pengadilan, bahwa Syekh Sulaian Arrasuli divonnis denda f.10 (sepuluh gulden) oleh Landraat di Bukittinggi, murid-murid beliau dan masyarakat merasa tersentak pula hati nya dengan spontanitas mereka menyumbang sang guru, akhirnya terkumpul uang melebihi dari denda sampai f.250 (dua ratus lima puluh gulden)
.
Selain beliau mengucapkan terima kasih kepada penyumbang berliau berkata :”Ini namanya Sengsara membawa nikmat”

Oleh karena pengaduan Lareh Canduang kepada Kontroleur di Bukittinggi, karena pekarangannya kotor, sehingga Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) didenda oleh pemerintahan Belanda, kemudian beliau memperoleh “sengsara membawa nikmat” dari denda yang vonis pengadilan sebanyak f.10 (sepuluh gulden) akhirnya terkumpul sampai f.250 (dua ratus lima puluh gulden) dari murid-murid belaiu dan masyarakat Kontan pada hari itu juga beliau belanjakan untuk pakaian kuda tunggangan beliau yang paling mewah dan mutakhir dikala itu, pada waktu itu yang ada kendaraan adalah kuda tunggangan seperti yang dimiliki oleh petinggi lainnya.

Sesampai dirumah beliau pasangkan pakaian kuda yang baru dibelinya dan termewah itu seraya beliau tunggangi kuda itu berkeliling kampung melalui depan rumah Lareh Syamsuddin St. Rajo Malenggang. Setibanya didepan rumah Lareh sengaja tunggangan kuda beliau dilambatkan supaya nampak oleh sang Lareh pakaian mewah kudanya dan kebetulan sang lareh sedang duduk diserambi rumah nya.

Dengan keadaan demikian sang Lareh merasa tersinggung karena pakaian kuda itu tidak pantas dimiliki oleh orang kebanyakan sebab dari segala-galanya Lareh harus mempunyai nilai lebih dari orang orang dianggapnya awam. Mulai pada saat itulah Lareh Canduang tidak senang dan tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Buya kita Syekh Sulaiman Arrasuli

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama