B A B .VI
KEBERADAAN BUNG KARNO DI MINANGKABAU
SUMATERA TENGAH

Menurut H. Fauzi Basa Marajo dalam tulisannya pada Tabloid “Publik” No. 26 Th IV/21-27 Mei 2008. Secara faktual, alotnya kepemimpinan Bung Karno diranah Minang, Sumatera Tengah sekitar Maret – Juli 1942 selepas dibebaskan dari penjara di Bengkulu adalah dalam rangka gerakan anti penjajahan yang merupakan akselerasi kebangkitan Nasional 1908 ditandai kukuhnya rasa senasib sepenanggungan ditanah air akibat pendudukan Jepang waktu itu yang mengenal batasan daerah, etnis maupun Agama

Keberadaan Bung Karno diranah Minang atau Sumatera Tengah (sekarang Suamtera Barat) sudah tentu berpengaruh besar terhadap sikap kaum pergerakanan nasional didaerah ini. Paara pemimpin daerah tidak tinggal diam demi masa depan tanah air, mereka senantiasa memperhitungkan siasat yang akan dijalankan.

Soekarno telah memutuskan bekerja sama dengan Jepang dan menggunakan zaman baru itu untuk mempersiapkan kemerdekaan . Dari Jawa datang berita bahwa Bung Hatta bersedia bekerja sama selaku penasehat. Ikhwal diatas punya pengaruh punya pengaruh terhadap penentuan sikap yangh akan diambil oleh para pemimpin pergerakan daerah ini dalam menghadapi Jepang.

Pada suatu hari, Chatib Sulaiman dan Leon Salim beserta rekan-rekannya separtai PNI berkumpul dikantor Dagang NV Bumi Putera dikampung Cina, Bukittinggi, Suamtera Barat. Mereka membicara sikap yang akan diambil dalam menghadapiJepang. Bekerjasama atau tidak tujuan tetap Indonesia Merdeka tanpa ditawar-tawar. Sebagaimana juga sikap dua tokoh partai mereka. Hatta dan Syahrir dikalangan mereka ini timbul dua fraksi.
Chatib Sulaiman dan Leon Salim mengikuti jejak Hatta dan memilih siasat kerjasama. Tamimi Usman dkk memilih jejaak Syahrir, tidak mau bekerjasama dengan. Golongan Chatib Sulaiman jika Jepang memenangkan peperangan, seluruh pimpinan Nasional yang ingin Merdeka akan dibunuh oleh Jepang. “Itu kalau mereka menang” kata Chatib Sulaaiman, Tapi kita sekarang anti Jepang, sekarang juga kita bisa dihancurkan, “Kita boleh pilih” tegasnya. Kami memilih biarlah kami dihancurkan nanti”. Tapi, kalau Jepang kalah, kita kan masih hidup, tukas Leo Salim. Namun diantara mereka juga ada yang berpendapat bahwa Jepang tidak akan membiarkan “gerakan sosial” bisa hidup. Apalagi gerakan politik. Tamimi Usman terus memelihara hubungan dengan opemimpin-pemimpin partainya di Jawa seperti dengan Bung Hatta – Syahrir – Djohan Syahruzah. Tapi dia condong mengikuti pendapat Syahrir.

Menurut Tamimi Usman, Syahrir berpendapat, bahwa kunci dari peperangan terletak di Eropa, sekalipun Jepang, sekalipun Jepang untuk sementara menguasai daerah yang begitu luas, tapi itu daera-daerah yang belum berkembang dan belum dapat dipakai untuk kepentingan perang. Maupun menghasilkan alat-alat keperluan perang. Sweba;iknya Eropa, terutama Eropa Barat negara yang sudah maju. Siapa yang bisa menguasai Eropa akan berhasil dalam peperangan.

Pihak Negara Poros (Jerman, Italia) akhirnya akan menderita kekalahan di Eropa. Demikian juga Jepang di Asia nanti yang tentu akan rubuh karena keadaan daerah yangdidudukinya belum berkembang. Dalam menghadapi keruntuhan Jepang itu rakyat Indonesia harus menyiapkan ddiri. Dengan perhitungan demikianlah maka Tamimi Usman tidak mau bekerjasama dengan Jepang

“Lasykar Rakyat”

Giyu Gun Jepang ternyata masih membutuhkan sejumlah pemim pin ddalam menjalankan gagasannya mendirikan Giyu Gun (Lasykar Rakyat). Pada kesempatan itu ditunjuk Chatib Sulaiman, Ahmad Dt. Simarajo dari golongan Adat dan Mahmud Yunus dari golongan Ulama untuk memimpin badan yang dinamakan Giyu Gun Ko En Kai. Sebagai Ketua ditetapkan Chatib Sulaiman. Dengan dipilihnya pemimpin dari berbagai golongan itu dimaksudkan oleh Jepang meyakinkan rakyat , bahwa Giyu Gun yang dibentuk itu adalah tentara mereka sendiri, diasuh oleh rakyat sendiri untuk mempertahan tanah air bersama tentara Jepang.

Tapi maksud tersendiri Jepang dalam pembentukan Giyu Gun adalah untuk mendapatkan bantuan menghadapi serangan musuh. Maka terhadap para pemimpion Indonesia di Sumatera Tengan mereka berharap bisa menyiapkan para pemuda dalam suatu bentuk tentara Indonesia bila saatnya tiba..Pusat Giyu Gun Ko En Kai (kantor penyelenggara Lasykar Rakyat) bertempat di Padangdengan cabang-cabangnya diseluruh Sumatera Tengah. Hampir seluruh kegiatan politik pada saat itu hakikatnya berpusat dikantor ini.

Adapun tenaga-tenaga inti dari Giyu Gun Ko En Kai Padang terdiri dari Chatib Sulaiman, Suska, Azis Latif, Ratna Sari, Mr. Nazaroeddin, Rasoena Said, Tjik Ani, Joenoes Kotjek dll. Oleh karena Pemerintahan dalam kota Bukittinggi terbagi dua. Maka di Bukittinggi dua cabang Ko En Bu, satu untuk Bukittinggi bernama Giyu Gun Ko En Bu Si dengan anggota H. Ibrahim (Permi), Rahimi (Pendidikan Nasional Indonesia), Anwar Kadir (kemudian PKI) Nuraini Rahman (Permi) dan Rosma (kaum ibu)

Giyu Gun Ko En Bu Sigai untuk daerah Agam beranggotakan Leon Salim (Pendidikan Nasional Indonesia) Mansyoer Thalib (PSII), Syamsuddin Zakaria (PSII) H. Bustamaan (PSII), Djanewar Djamil (PSII), Ny. Lamina Kahar Masyhur (kaum ibu) dan Rasyid Djamili dll.

Pemilihan tenaga-tenaga ini didasarkan individu, bukan berdasarkan Partai atau bekas Partai tertentu. Kantor kedua cabang terdapat di jalan Tembok nomor 90, Bukittinggi dirumah Ny. Aissyah Rahimi.

Para pemimpin Giyu Gun Ko En Kai, Chatib Sulaiman, H. Mahmud Yunus dan A. Dt. Simarajo berhasil membangkitkan semangat Pemuda Sumatera Tengah untuk masuk Giyu Gun. Peristiwa ini merupakan perubahan besar dari sikap orang-orang tua didaerah ini yang merelakan putera-puteranyamenjadi prajurit.

Banyak pemuda-pemuda mendaftarkan diri untuk menjadi Giyu Gun, baik yang berasal darisekolah Agama maupun dari sekolah umum. Syekh Mohammad Djamil Djambek ulama besar yang berdomisili di Bukittinggi menyerahkan empat orang puteranya masuk Giyu Gun. Pada bulan Nopember 1943 Giyu Gun resmi berdiri di Sumatera Tengah sebulan sesudah PETA berdiri di Pulau Jawa Diantara Perwirta angkatan pertama yang dilatih di Padang terdapat Islmael Lengah, Dahlan Djambek, Dahlan Ibrahim, Ahmad Thalib dan Ahmad Husein.

Kemudian menyusul Angkatan Ke – II. Leon Salim juga mendaftar sebagi calon, tapi tidak diterima, karena tenaganyadiperlukan untuk mengurus Ko En Boe. Dia sangat kecewa dengan kejadian itu. Tapi dalam pembentukan TKR diterima sebagai Kapten mengepalai penghubung divisi Banteng, setelah pengakuan kedaulatan dia dipindahkan ke Jawatan penerangan Sumatera Tengah keemudian pensiun sebagai pegawai tinggi .

Di Bukittinggi pertama kalinya pemuda-pemuda masuk asrama tempat latihan tanggal 4 Oktober 1944. Giyu Gun Bukittinggi berkembenang menjadi satu kompi dan pada tanggal 11 Juli 1945 tidak lama sebelum perang berakhir dilantik 11 orang perwira Giyu Gun sebagai Giyu Syooi atau Letnan Dua diantara terdapat Abdul Halim (Aleng)
Kaum Ibu yang tergabung dalam Haba No kai punya saham yang besar dalam penyelenggaraan Giyu Gun ini. Mereka dengan giat menyediakan perbekalan bagi keperluan mereka ini. Anatar lain dalam usaha mengumpulkan beras “ganggaman” dari tiap-tiap rumah, juga keluarga Giyu Gun turut mendapat perhtian mereka,sehingga gagasan membentuk “Lasykar Rakyat” benar-benar berjalan . Kemudian ternyata dalam sejarah, bahwa tenaga Giyu Gun benar-benar mwerupakan tenaga inti pembentukan BKR, TKR, TRI dan TNI di Sumatera Tengah sesyuai dengan rencana semula.

Selaain ketrampilan militer didalam Giyu Gun 11 pemuda Tyu Gakko Sumatera tengaah mendapat latihan calon perwira, diantara mereka terdapat Hasnan Habib (mantan Dubes RI di AS tahun 1967) Munafri Yusuf dan Marah Yunus. Adalah menarik, bahwaa di Suamtera Tengah nama Giyu Gun lebih formal dibanding PETA (Pembela Tanah Air) seperti yang dikenal orang di Jawa. Kalau di Bukittinggi orang kenal dengan Tyu Gakko, di Jawa umum hanya mengenal dengan SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Begitu juga nama surat kabar berbahasa Indonesia di Padang terdapat sebuah surat kabar bernama “Padang Nippo” sementara di Jawa “Asia raya” dan “Tjahaja” dan yang tetap menggunakan nama daerah “Minangkabau Voetballbond” yang terdapat sejak zaman Belanda diganti dengan “Gabungan Sepak Bola Minangkabau Nippon” ini menggambarkan perbedaan politik balatentara pendudukan Jepang di Sumatera dibanding dengan mereka yang berada di Pulau Jawa

Selanjutnya berperannya Bukittinggi sebagai ibukota Pemerintah Darurat Republik Inddonesia (PDRI) pada 1949 merupakan wujud revolusi dari kiprah Kebangkitan Nasional yang ditumbuhkan Budi Utomo sebelumnya. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan suatu bangsa atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Legitimasi hak sesama ummatini di Perancis telah dicetuskansejak tahun 1789 dalam semboyan terkenal “Decklation des droits de thomme et du citoyen”

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama