BA B. V
PRA PROKLMASI KEMERDEKAAN

“Merebut kekuasan Jepang di Padang”

Pada pra Kemerdekaan awal tahun 1945, Negara Sakura, Jepang dibom sekutu, dimana bangsa ini semakin bringas dan merajalela melancarkan penjahannya, termasuk Indonesia. Di Indonesia tentara Jepang dengan brutal berbuat tindakan kepada bangsa Indinesia, khususnya di Minangkabau mereka bertindak diluar batas pri kemanusiaan, sehingga banyak rakyat mati ketakutan akibat perlakuan kasar tentara Jepang. Ditengah perang Dunia ke II sedang berkecamuk, Jepang tidak mau mundur dan meninggalkan jajahannya.

Akibat tentara Amerika Serikat bersekutu dengan tentara negara Inggris, Perancis, Australia bebera negara lainnya untuk meng “enyah” kan Jepang dari berbagai negara jajahannya. Pada saat itu tentara sekutu melakukan manuver terhadap negara Matahari Terbit itu dengan diporak porandakan oleh “bom atom” kota Hiroshima dan Kota Nagasaki menjadi luluh lantak.
Dalam keadaan situasi tidak menentu, atas perintah Kaisar Hirihito, tentara Jepang ditarik dari semua negara jajahannya, termasuk di Indonesia.

Lain halnya di Sumatera Tengah, tentara Jepang tidak mau menyerahkan kekuasaannya dibawah pasukan Kami Kaze Syu Cho Khan yang ada dikota Padang. Akibat itu, rakyat Sumatera Tengah bersama 12 orang pemimpin masyarakat terkemuka seperti Engku Syafi’i (pendiri INS Kayu Tanam) Inyiak Canduang dan rombongan berangkat menuju Kota Padang dengan spontanitas tanpa dikerah kan rakyat datang berduyun-duyun membanjiri lapangan kantor Walikota Padang, sehingga membuat Jepang ketakutan. Kedatangan massa yang ramai itu adalah untuk menuntut Jepang supaya segera menyerahkan kekuasaan nya.

Pada kesempatan itulah Syekh Sulaiman Arrasuli (inyiak Canduang) tampil kedepan corong sambil berpidato singkat:

“Saudara-saudara sekalian”
“Hari ini saya telah diangkat sebagai residen Suma tera Tengah”, (hanya untuk menenangkan massa, sesungguhnya Engku Syafi’i yang diangkat sebagai Residen)

”Kami harap rakyat agar tentram dan patuh”,
“Kembalilah pulang sambil menjaga kampung”
“Untuk memelihara keamanan”,

Lanjut Inyiak Canduang menambahkan:.

“Sekarang Jepang sudah kalah dan sudah menyerah kan kekuasaannya”.

Mendengar suara buya Syekh Sulaiman Arrasuli rakyat merasa senang dan merekapun pulang sambil meneriakkan yel-yel “merdeka, merdeka!!!”.

“Akan dibunuh”

Pada saat-saat suasana genting dan tidak menentu terutama ulama terkemuka seperti Inyiak Canduang, Inyiak Syekh Muhammad Djamil Djambek, dan Inyiak Syekh Ibrahim Musa Parabek selalu dimintai nasehat dan pandangannya untuk menyikapi situasi yang genting ini.

Dalam pergolakkan yang semakin menjadi-jadi menghadapi perjuangan dengan tentara Jepang, maka Belanda menyusup dalam tentara sekutu., untuk memper keruh suasana, sehingga semakin kacau.

Pada saat itu di Baso terjadi pula kekacauan yang digerakkan oleh partai komunis (PKI) di Sungai Sariak Baso dibawah pimpinan Tuanku Nan Putiah. Gerakkan ini semakin banyak mempunyai pengikut, gerakkan ini merencanakan untuk mengahabisi orang-orang pandai dan Ulama supaya mereka leluasa mendirikan PKI.

Pada suatu hari bermaksudlah kelompok orang atheis itu untuk mem bunuh Syekh Sulaiman Arrasuli, di Anak Aia Simarasok, Baso, tapi mereka menghadapi kesulitan, selama Inyiak Canduang menetap disana, dirumah istri beliau.

Semanjak itu sudah lain kelihatannya gerak-gerik Tuanku Nan Putiah terhadap Inyiak Canduang. Seorang diantara bekas murid beliau bernama guru Syarif datang menemui beliau di Canduang dengan maksud menyampai kan dan memohon izin masuk anggota PKI, maksudnya hanya untuk memata-matai rencana mereka, Apalagi rencana hendak membunuh Inyiak Canduang. dengan jalan menunggunya di tengah jalan apabila beliau hendak pargi ke rumah istrinya . rencana ini memang benar da disampaikan oleh guru Syarif kepada Inyiak agar Inyiak sementara waktu jangan dulu pergi ke Simarasok. Sehinga rencana pembunuhan itu menjadi gagal.

Niat untuk membunuh tidak berhenti disitu saja wulaupun pertama kali gagal maka merancang untuk kedua kalinya yaitu direcanakan untuk membawanya dimalam hari dengan mobll yang tertutup .diatas mobil telah tersedia algojo untuk membunuhnya, dengan siasat yang telah disusun utusan pembunuh itu berpura-pura jadi suruhan Engku Syafi’i memanggil Inyiak Syekh Sulaiman Arrasuli ke Bukittnggi.

Rahasia ini disampaikan kepada Inyiak Canduang oleh guru Syarif, agar Inyiak berhati –hati pada malam hari yang ditentukan.

Pada suatu malam yang gelap gulita berhentilah sebuah mobil di depan rumah inyiak Candduang, salah seorang diantaranya turun menemui Inyiak Canduang berkatalah utusan itu kepada Inyiak dengan tutur kata yang lemah lembut’’kedatangan kami kemari adalah suruhan Engku Syafi’i”. Bersiap-siaplah Inyiak, kendaraan sudah tersedia diluar” kata tamu yang tidak diundang itu.

Pada waktu itu Inyiak teringatlah akan pesan guru Syarif seraya beliau berucap:

“Ananda ......” kata Inyiak kepada tamu yang tidak dikenal itu.
“Toloang sampaikan pasan ambo ka Anggku Syafi’i tu, bahwa malamko ambo indak dapek mangabulkan undangan baliau” bahasa Minang yang kental

(“Tolong sampaikan pesan saya kepada Engku Syafi’i bahwa malam ini saya tidak dapat mengabulkan undangan beliau”) karena saya ada keperluan penting sekali, apa lagi atas nasehat dokter , saya tidak boleh keluar malam takut penyakitnya akan kambuh kembali sudah tentu jawaban ini tidak menjenangkan tamu itu, dan dicobanya lagi untuk berdiplomasi halus.

Rupanya diplomasi itu sia-sia, harapan mereka dengan rencananya menemui kegagalan lagi, tamu itu minta diri untuk meninggalkan rumah Inyiak Dengan petolongan Allah Swt, Inyiak kita terlepas dari bahaya maut. Tidak berapa lama kemudian tentara repoblik mengepung tempat Tuangku Nan Putiah akhirnya ia ditangkap dan dibawa ke Ford de Kock (Bukittinggi) disana ia diexsekusi sampai menghembuskan napasnya yang terakhir.

Tidak berapa lama Tuangku Nan Putiah mati mene mui ajalnya, timbullah suatu pergerakan baru yang dikepalai oleh Angku Palo Sulan, nama pergerakan itu berlainan dengan gerakan Tungku Nan Putih, tapi gerak –gerik nya sama denga komunis Tuangku Nan Putiah.

Syekh Sulaiman Arasuli adalah ulama yang sangat di benci oleh orang –orang pengikut anti Tuhan itu. Lantas orang –orang berpaham komonis juga sangat benci kepada beliau.

Angku Palo Sulan tidak bisa membunuh Inyiak Candung secaraa gegaabah, mereka menganggap selama Inyiak Canduang masih hidup, gerakannya akan terhambat dan tidak akan maju ,maka disuruhnya enam orang menjadi algojo yang gagah lengkap dengan senjata untuk pergi mengintip dan membunuh Inyiak Canduang,

Mereka berangkat dekat subuh tapi kebetulan kabut sangat tebal hingga mereka yang enam orang tadi terus saja berjalan hingga tidak mengetahui simpang jalan ke Canduang akhirnya mereka terus saja jalan arah ke Bukittinggi itulah jalan yang ditempuhnya setelah sampai di Padang Jariang, Koto Hilalang, beduk subuh berbunyi menandakan hari sudah siang orang yang hendak membunuh jadi kesianggan. Jadi gagal lagi niat dan rencana pembunuhan Inyiak Canduang.

Berita rencana pembunuhan ini diketahui oleh Inyiak (kakek) dari salah seorang diantara enam algojo tadi yang bernama Kari Malano, Akhirnya ccucu Kari Malano tersebut tobat dan minta maaf dan minta ampun kepada Inyiak kita.

Berita ini diketahui oleh Buya Sirajuddin Abbas, maka dipesankan olehnya supaya Inyiak tinggal dulu di bukittinggi ,setelah sampai beliau diminta datang kerumah Wedana Panto dengan maksud menanjakan kepada Inyiak bagaimana pendapat beliau tentang Angku Palo Sulan karena Wedana Panto saling mengenal, bahwa Angku Palo Sulan kawannya bermain sepak bola.

Setelah diketahui dari mulut ia Inyiak sendiri baru lah ditetapkan oleh tentara Republik untuk menangkapnya akhirnya Angku Palo Sulan tertangkap oleh tentara dan dibawa ke Bukittinggi disini lah diexsekusi nyawanya sampai mati.

“Tahun 1942 Belanda Menyerah”

Saat sakratul maut pemerintahan Belanda di Indonesia, kira-kira tahun 1942 tentara Jepang semakin dekat, datanglah ke Canduang menemui Inyiak Canduang seorang diplomat dan pemimpin ulung Belanda Van Der Vlas. Waktu itu pertemuan keduanya secara tertutup.

“Inyiak.............”kata Van Der Vlas dengan logat ter
bata-bata memulai pembicaraannya.

“Saya datang kemari untuk meminta pertimbangan Inyiak selaku seorang ulama besar di Minang Kabau ini. Inyiak tentu sudah mengetahui” , lanjut Van der Vlas.

“Bahwa tentara Belanda semakin terdesak dan tentara Jepang akan mendarat di Indonesia ini, kata Van Der Vlas. Tapi percayalah Inyiak bahwa Jepang tidak akan lama, karena Amerika adalah negara yang terkuat didunia serta mempunyai senjata modern, kata Van Der Vlas.

“Dengan pertempuran yang sengit tentu Jepang akan kalah”, ucap Van Der Vlas lagi. “
Inyiak sebagai ulama yang terpandang disini, saya ingin mendengar hasil pikiran inyiak tentang politik bumi hangus yang akan dijalankan pemerintah Belanda, kata Van Der Vlas lagi.



Lantas inyiak Canduang menjawab:

“Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan tuan ketempat saya ini. Permintaan tuan itu dapat saya sampaikan sebagai berikut:

“Cobalah tuan pikir sendiri, seorang laki-laki telah lama berumah tangga hingga telah mempunyai keturunan tiba-tiba terjadi perceraian, adakah sebagai laki-laki tadi membakar rumah istrinya itu? Sedangkan dia punya keturunan disana. Jika hendak dijalankan politik bumi hangus itu boleh tetapi tidak merugikan kepentingan rakyat. Kalau tuan bakar umpamanya Jepangpun masuk, nanti setelah Jepang pergi tentu rakyat tidak suka lagi sama Belanda.

’’Inyiak jangan khawatir”, kata Van Der Vlas.
“Jepang tidak akan lama disini” lanjutnya,
“Nah.........itulah sebabnya, jangan dijalankan politik “bumi hangus itu, selain merugikan rakyat,”

Kata Inyiak lagi meneruskan pembicaraannya,

“Sebenarnya Inyiak telah mengetahui, Jepang hampir masuk, Kedatangan Vander Vlas ini adalah sedang gundah memikirkan situasi pemerintahan, karena itu Inyiak tidak khawatir disebutnya yang akan mnyinggung bleid pemerintah Belanda selama ini.

“Tuan...........” kata Inyiak Canduang lagi meneruskan pembicaraanya.

“Sebenarnya Belanda tidak adil memerintah di Indonesia ini, contohnya banyak, marilah saya sebiutkan agak sebuah saja: nampaknya Belanda benar-benar membedakan kami golongan lama dengan penghulu (kepala kaum) di MinangKabau ini. Kalau peng hulu tidak dikenakan “blezsting” (pajak) dan ulama harus dan dperintahkan membayar. Padahal tuan barangkali tahu ulama dengan penghulu ibarat aur dengan tebing, satu dengan yang lain saling menguatkan”.

Van Der Vlas tidak membantah sembari mencatat dalam notesnya.

“Itu tidak perlu dicatat”, kata Inyiak Canduang me nambahkan,

“Percuma saja. Beliau menduga bahwa Belanda tidak mungkin untuk kembali lagi ke Indonesia”.

Inyiak meneruskan lagi perkataannya,
“Di Jawa diadakan pengadilan agama, di Sumatera tidak ada, ini namanya juga tidak adil Belanda meme rintah”.

Van Der Vlas menjamin akan memperbaiki semua setelah Jepang nanti kalah. Karena waktu sangat mende sak, maka Van Der Vlas mengharapkan agar nanti disambung lagi di Park Hotel, Ford de kock.

Kemudian Van der Vlas meninggalkan rumah Inyiak Canduang. Tidak berapa lama Jepangpun mendarat, sebelum itu sudah ada keputusan di park hotel bahwa akan dijalankan praktek bumi hangus itu. Asal tidak akan membawa kerugian kepada rakyat.

Semenjak itu Belanda semakin panik mereka berlarian untuk menyelamatkan diri, tetapi kedengaran juga bahwa Belanda akan melakukan politik bumi hangus, dengan cepat diadakan rapat kilat oleh Inyiak dengan Haji Sirajuddin Abbas dan Anwar Sutan Saidi.

Ketiganya sepakat untuk mengirim telegram ke Jakarta yang bernbunyi:

“Tuan Van Der Vlas di Batavia”,
“Menurut perjanjian kita dulu dijalankan politik bumi hangus yang tidak akan merugikan rakyat”,

Rupanya isi telegram itu memang berguna dan dicermati oleh Belanda hingga yang dibakar itu hanya bensin saja.

Sebagai ucapan selamat atas usaha inyiak ini, maka tuanku demang Datuak Majo Lelo atas nama asisten residen luhak Agam menyampaikan ucapan terima ksaih kepada inyiak, sebab dengan usah beliaulah tidak jadi dijalankan politik bumi hangus oleh Belanda.

“Zaman Pemerintahan Jepang”

Setelah tentara Jepang berkeliaran dikota-kota yang diduduki. Dan di Bukittinggi lah yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan untuk wilayah Sumatera, maka banyaklah pemimpin-pemimpin rakyat ditangkap, sebab dituduh sebagai kaki tangan Belanda. Inyiak Canduang sendiri turut terlibat dengan tuduhan anti Jepang itu

Akhirnya tersiarlah berita bahwa Syekh Sulaiman Arrasuli akan ditangkap Jepang, tuduhan yang dilempar kan kepadanya sebagai kaki tangan Belanda, apalagi Van der Vlas sewaktu Jepang akan masuk telah berunding dengan Inyiak Syekh Sulaiman Arrasuli di Canduang.

Segenap orang kampung dan sanak famnili merasa takut, kalau-kalau benar inyiak akan dimasukkan kedalam tahanan.

Untuk menghindarkan dan menentramkan hati masyarakat dan pengikut beliau, pergilah Inyiak Canduang ke Bukittinggi menemui Sutan Sulaiman salah seorang karib beliau bekerja dikantor pemerintahan Jepang, tapi hari itu tidak berjumpa dengan Sutan Sulaiman, mungkin sangat banyak urusannya maklum beliau seorang penterjemah dan kepercayaan Jepang, akhirnya Inyiak menulis surat untuk disampaikan kepada Sutan Sulaiman dan ditipkan melalui pesuruhnya.
Tidak berapa lama kemudian datanglah Sutan Sulaiman ke Canduang. Kedatangannya menjadi penen tram hati keluarga.

“Inyiak tak usah kawatir”, kata Sutan Sulaiman mengawali pembicaraannya.

“Keluarga semuanya harap tenang tidak ada apa-apa, saya juga akan membela Inyiak kita”. Lanjut Sutan Sulaiman.

“Semuanya adalah fintnah orang yang ambil muka” .ucapnya lagi.

“Latihan Militer ”

Jepang menganjurkan agar rakyat suka dididik menjadi tentara. Ketika itu diadakan rapat besar di Padang, rapat dihadiri oleh pemimpin-pemimpin, ulama-ulama dan penghulu kepala kaum adat Mingan Kabau.

Cukan (pemimpin Jepang) yang hadir dalam rapat itu bertanya :

“Betulkah di Minangkabau ini ada Hulubalang dan Parit Pagar”

Dijawab hadirin:
“Betul ada tuan”
“Bolehkah ditambah mata pelajarannya dengan ilmu militer?” tambahnya.

Salah satu buah usaha itu ialah berdiri satu mushalla yang dinamakan “Suaru Umum” terletak dipasar Baso .Pada tahun 1915 , Beliau diserahi beban oleh anak nagari, yaitu diangkat sebagai “qadhi nikah” (penghulu) .Jabatan itu sampai wafat tetap dipegang beliau.

Pada tahun 1918 sa’at perang dunia pertama mulai reda , berdirilah di Candung Partai Syarikat Islam . Beliau terpilih sebagai Presidennya . Kemudian digerakkan pula persatuan guru agama di Padang Panjang . Dan beliau lah sebagai salah seorang pendirinya .

Atas insiatif Inyiak Canduang juga dibentuklah : Ikatan Alim Ulama yang dinamakan : “Ittihadul Ulama Minangkabau” Tujuannya terutama mempersatukan kaum tua untuk mempertahankan mempertahankan faham Ahlusunnah wal jama’ah .Gerakan itu beliau pimpin dengan sebaik baiknya, hingga terasa benar faedah dan manfa’atnya.

Dalam hati beliau selalu bercita cita agar murid murid beliau menjadi orang orang yang pandai, terutama faham dan menguasai ilmu Agama “tafqquh fiddin”

Mengingat cara belajar secara lama tidak dapat dipertahankan lagi secara halaqah (duduk bersila melingkar menghap kepada guru, sebab murid semakin bertambah , maka sepakatlah orang kampung untuk memperbaiki gedung perguruan.

Tahun 1928 berdirilah Madrasah Tarbiatul Islamiyah. Dikala itu umur belau lima puluh tahun . sekolah yang baru didirikan itu semakin bersemarak . Karena itu bermaksud sudah lama beliau ingin memasukan air dari sumber mata air “Lurah Tampang Kalek” sepanjang 1500 Meter guna kepentingan internat (asrama santri) . Usaha yang baik itu memakan yang banyak untuk pembeli pipa dan keperluan lainnya . Atas inisiatif beliau, dan karena baiknya nama beliau disisi pemerintah maka tuan Luhak Agam Carnofevvel berkenan memberikan bantuan yang berupa pipa.

Hingga ini tercapailah cita cita beliau memasukkan air khususnya untuk kepentingan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung dan masyarakat sekitarnya, maklumlah masalah air bersih ini agak sulit dikawasan ini

Pada kesempatan itu semakin hari timbul juga pikiran baru untuk mengokohkan persatuan perguruan perguruan yang telah dibangun dan dibina selama ini sudah dirasakan faedahnya apabila mengadakan penggabungan atau mempersatukan Akhirnya terbentuk lah “Perserikatan Tarbiyatul Islamiyah” dengan singkatan PERTI . berdirinya tanggal 20 Mai 1930 kini Persatuan Tarbiyah Islamiyah telah menjelma menjadi organisai massa yang menganut paham Ahlusunnah wal Jama’ah dalam syari’at mengembangkan ajaran Imam Syafi’i r.a dimana dewan tertingginya diketuai oleh Buya Haji Sirjuddin Abbas gelar Datuak Bandaharo.


“Ordonansi kawin bercatat”

Pada tahun 1938 pemerintah Belanda mengejutkan Umat Islam di Indonesia , yaitu Belanda hendak memaksakan Ordonansi kawin bercatat atau melalui catatan sipil sekarang . Dimana mana alim Ulama bangun , memajukan mosi resolusi dan sebagainya, di Minangkabau serentak hendak menetang dan menolaknya . Demikianlah di Bukittinggi diadakan rapat umum yang dihadiri oleh : Alim Ulama , Cedik pandai , dan segenap kaum Muslimin dengan penuh perhatian . Dalam hal ini Syekh Sulaiman Arrasuli ,salah seorang pembicara . Antara lain belliau menerangkan :

Saudara saudara.................!!! sebagian ordonansi kawin bercatat melalui catatan sipil itu, yaitu kaum perempuan tidak boleh dimadu .
Talak itu ditangan laki laki tapi menurut ordonansi itu talak dipegang oleh kaum perempuan .

Semuanya ini adalah berlawanan dengan ajaran Agama Islam sebagai Agama yang kita muliakan dan kita agungkan, seraya Inyiak Canduang merinci bahwa :

1. Bilangan Perempuan dibandingkan dengan lelaki sa-
ngat lebih banyak, Andai kata perempuan tidak boleh dimadu , sudah tentu kebanyakan perempuan itu tidak akan mendapat suami . Kalau begitu kejadiannya , nyatalah kebanyakan perempuan akan melakukan langkah serong dengan berbuat zina dan zina itu adalah dosa besar.

2. Bagi perempuan banyak halangan melakukan hubungan sebadan, Umpamanya datang bulan (darah kotor), sedang nifas (habis melahirkan) anak. Hal ini jika menutup pintu bagi suami yang tidak beristri lebih dari satu, tidak tertutup kemungkinan bagi seorang suami akan terjun kelembah perzinaan.

1. Bagi perempuan banyak halangan untuk melakukan pe 3. Jika seorang Jika 3. Seorang laki laki kaya raya, dan mempunyai kemampuan lebih untuk beristri lebih dari satu , maka besar kemungkinan pula, uang yang banyak itu akan difoya-foyakannya untuk melepas kan hawa nafsu melalui wanita-wanita malam.
Jadi ternyatalah bahwa ordonansi kawin tercatat melalui catatan sipil itu seolah olah hendak menghidup suburkan rumah pelacur

4. Kalau sekiranya hal menjatuhkan talak ,kita berikan pula kepada perempuan ,nyata benarlah bahwa tidak ada keadilan. Sebagai contoh :
Laki laki telah bersusah payah mencari nafkah untuk biaya hidup rumah tangga, panas, kepanasan, hujan, kehujanan mengerjakan sawah dan ladang ,hingga dengan berkat kesungguhan telah terkumpul uang sedikit demi sedikit, yang pada gilirannya kemudian telah dibelikan sawah, dan dibangun pula rumah , tiba tiba si istri mencampakan suaminya ,karena dia diberi hak menjatuhkan talak. Alangkah kejam jika demikian , tukas Inyiak Candung.

Oleh karena itu kita sebagai ummat Islam tidak dapat menerima “Ordonansi kawin bercatat” dengan spon
ntan harus ditolak, tukas Buya Syekh Sulaiman Arrasuli.

Sebagai contoh lagi, misalnya pemerintah sebagai seorang Bapak yang sayang kepada anaknya memiliki 2 orang anak, Kemudian sang Bapak membelikan dua lembar baju, dan langsung diserahkan kepada kedua anak tadi masing mendapat 1 lembar. Ternyata diantara kedua anaknya, seorang sangat nakalnya dan berkebetulan baju yang dibelikan itu sempit tidak pas dibadannya. Maklum seorang anak nakal baju itu malah dirobeknya dan langsung dilemparkannya kearang ayahnya sambil mengumpat-umpat. Lain hal anaknya yang satu lagi, anaknya pandai, cerdas dan memiliki sopan santun yang tinggi, baju yang dibelikan ayahnya tadi juga tidak pas dibadannya, tapi dia langsung dilipatnya lagi dan langsung diserahkannya kepada ayahnya sambil berucap “bajunya tidak pas Ayah, kekecilan katanya sopan” dengan harapan baju itu diganti yang sesuai dengan ukuran badannya. Disini timbul pertanyaan dari Inyiak Candung.

“Sekarang bagaiman kita, mau jadi anak nakal atau jadi anak pintar, beriman, bertaqwa dan berakhlakul karimah?.Ucap Buya kita dihadapan hadirin peserta rapat di Bukittinggi yang dihadiri oleh Niniak Mamak kepala kaum, Alim ulama, Cadiak Pandai dalam rangka menantang diberlakukannya oleh pemerintah Belanda “Ordonansi kawin bercatat melalui catatan sipil tersebut”, dengan spontan dijawab oleh hadirin:
“Mau anak yang pintar dan berakhlak Inyiak” ucap hadirin riuh. Kalau begitu, mari kita kembalikan Ordonansi kawin bercatat ini kepada penguasa, kita sepakat menolaknya dan supaya diganti dengan yang lain dan sesuai dengan ajaran yang kita anut, lanjut Inyiak Canduang.

\


“Dirikan Majlis Islam Tinggi Minangkabau”

Atas inisiatif, dan ditengah ketidak pastian era peme rintahan Jepang, pamor beliau Inyiak Candung semakin meningkat , kepada beliaulah harapan masyarakat sebagai mana yang diharapkan memulihkan keadaan rakyat yang selalu disiksa oleh Jepang, dimana pada saat itu rakyat selalu dibebani dengan berbagai pungutan, sehingga hasil pertanian mereka ludes diambil oleh penjajah Jepang, memang mayarakat kehidupannya bergantung dengan hasil pertanian, selain itu mereka dalam keseharian hampir tidak luput diajak kerja paksa.

Sebagai usaha beliau, satu-satunya menghimpun Alim Ulama, Niniak Mamak Kepala Kaum dan Cadiak Pandai di Bukittinggi diadakan pertemuan untuk menyusun strategi sebagai upaya untuk “mengenyahkan” Jepang dari bumi ini.

. Usaha itu menghasilkan dengan dibentuknya sebuahorganisasi bernama “Majlis Islam Tinggi Minangka bau (MITM” beliau ditunjuk sebagai Ketuanya. Tidak berapa lama kemudian diadakan Konferensi Alim Ulama se Indo nesia dan Malaya di Singapura. Majlis Islam Tinggi Minang kabau (MITM) mengirim delegasinya ke Konferensi itu dengan Wakil-wakilnya yang terdiri dari Inyiak Syekh Sulaiman Arrasuli, Inyiak Syekh Ibrahim Musa, Parabek, Mahmud Yunus, A.R. St. Mansur, dan buya H. Sirajuddin Abbas.

Sepulangnya dari menghadiri konferensi itu, sema kin kelihatanlah kekejamaan Jepang semakin tampak menyiksa dan mempersulit kehidupan rakyat. Setelah dicermati, mengertilah Inyiak Candung, bahwa Jepang ingin memiliki Indonesia dengan jalan mempersulit dan menyiksa, apabila rakyat sudah dirundung penderitaan dan dalam keadaan sulit, maka barulah pemimpin-pemimpin dan Alim Ulama akan dihabiskan jiwanya, kalau sudah habis orang pandai dan pemimpin kharismatik,barulah Jepang bisa melenggang untuk memiliki Indonesia.
“Militerisasi Parit Pagar dan Hulubalang”

Jepang setelah menguasai wilayah-wilayah yang strategis dalam politik dan strateginya Jepang masih ingin menancapkan kekuasaan keberbagai sektor menguasai wilayah jajahannya yang lebih dalam lagi, sehingga rakyat tidak bisa berkutik dibuatnya. Salah satu contoh petinggi Jepang yang ada Luhak Agam belum merasa puas dengan wilayah kekuasaan nya, bahkan ingin diperkuat dengan beberapa cara seperti diungkap oleh petinggi Jepang dalam sebuah pertemuan dengan Inyiak Canduang dan Dt.Simarajo dari MTKAAM,

“Bagaimana jika parit pagar dan hulubalang diberi pealjaran dengan latihan militer?“, ucap petinggi Jepang itu pada pertemuan yang diada dirumah Inyiak Canduang
“Jawaban ini diserahkan kepada Inyiak Canduang dan Dt. Simarajo dari Majlis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM)”. Jawab Inyiak Canduang

Lantas Jawab Dt. Simarajo :

“Di Minangkabau ada Undang-undang tuan, Syarak mangato, Adat mamakai karena disini ada Ulama, maka baiklah Inyiak Canduang sebagai Ulama yang menjawab nya”,

Maka dijawab oleh Inyiak Canduang, meneruskan per tanayaan petinggi pasukan Jepang tadi :

“Melatih Parit Pagar dan Hulubalang dengan latihan militer boleh-boleh saja, menurut Agama bahkan lebih baik” Jawaban beliau itu, seolah-olah beliau sudah berpihak kepada Jepang, tapi bukan yang dimaksud oleh Buya Syekh Sulaiman Arrasuli, ini adalah salah satu akal- akalan dan politik beliau Inyiak Canduang sebagai menyerap ilmu kemeliteran untuk Parit Pagar Hulubalang dari Jepang agar mudah dijadikan tentara Republik. Beliau juga teringat akan ucapan Van der Vlas petinggi Belanda, sewaktu dia menemui Inyiak Candung sebelum Jepang masuk ke Indonesia bahwa Jepang tidak akan lama di Indonesia selambat-lambatnya 4 tahun.

Teringat akan ucapan Van der Vlas itulah, Inyiak Canduang mengusulkan agar latihan Militer untuk Parit Pagar dan Hulubalang adalah akan berguna bagi kita untuk memperjuangan kemerdekaan dan akan dijadikan tentara Republik

Dengan jawaban yang demikian, maka terlepaslah tuduhan Jepang kepada Inyiak Canduang dari ancaman Jepang, karena dituduh berpihak kepada Belanda. Kemudian petinggi Jepang selalu berkunjung kerumah Inyiak dan semakin akrab dan tahulah Jepang, bahwa Syekh Sulaiman Arrasuli seorang Ulama yang besar pengaruhnya dikalangan rakyat.

Mengingat peranan Buya kita dalam berdiplomasi memperjuangkan hak rakyat serta mendapat pujian dari tentara Jepang, maka pada kesempatan itu Inyiak Canduang diangkat anggota Sidang Kerukunan Minang kabau semacam parlemen sekarang

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama