BAB. IV
BERANTAS PENYAKIT MASYARAKAT

Pada tahun 1912 M, nama harum Haji Sulaiman sudah mulai meroket sebagai seorang Ulama Besar dan berpe ngaruh, bahkan beliau dinobatkan sebagai seorang Syekh dengan panggilan “Syekh Sulaiman Arrasuli” (Arrasuli diambil dari nama ayah beliau Muhammad Rasul) dan keberhasilannya dalam memberantas penyakit masyarakat seperti Judi, menyabung ayam, minum tuak, mabuk-mabukan sebagai penderitaan rakyat seperti yang terdapat di Kanagarian Canduang.

Akibat kekalahan Perang Paderi diabad ke 19 melawan Belanda yang dipimpin oleh Haji Piobang, Haji Sumaniak dan Haji Miskin, peradaban masyarakat waktu itu masih “centang parenang” (tidak menentu), termasuk di Pandai Sikek, Kabubupaten Tanah Datar, tanah kela hiran Haji Miskin. masyarakat disini peradabannya tidak menentu, bahkan dinegeri ini sedang digandrungi penyakit masyarakat seperti judi, menyabung ayam dan minum tuak mabuk-mabukkan serta tharikat keras atau tharikat kebal.

Merujuk dengan keberhasilan Syekh Sulaiman Arra suli (Inyiak Canduang) dalam memberantas penyakit masyarakat di Candung semasa remajanya, maka timbul pula hasrat sebagian anggota masyarakat di Pandai Sikek. dan Tuanku Lareh VI Koto beserta Niniak Mamak mengundang Buya Canduang untuk mengajar mengaji disana sekaligus untuk memberantas “perjudian, manyabuang ayam dan perbuatan maksiat lainnya serta tharekat keras atau kebal”. Alhamdulilah, selama beliau disana, perbuatan yang bertentangan denga Agama seperti judi dan penganut tharekat keras sudah mulai surut dan pelakunya sudah banyak yang kembali kejalan kebenaran,

Selama delapan bulan beliau disana, perjuangan beliau sangat makbul, dan menimbulkan kegembiraan, masyarakatnya sudah terhindar yang kehidupannya penuh dengan kegalauan dan tidak menentu masyara kat disana. Kesuksesan beliau atas menyebar kemana-mana dan sempat diketahui oleh Tuanku Damang Darwis Dt. Majo Lelo merangkap Lareh Baso dan ingin mengundang Buya Syekh Sulaiman Arrasuli untuk turut memberantas penyakit masyarakat, seperti Judi, mayabuang ayam, ramok rampeh, maling dan perkosaan sangat merajalela disana , maka diundanglah Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) kesana,
Sebenarnya antara Baso dengan Canduang tidaklah terlalu jauh dapat ditempuh selama sepuluh menit berjalan kaki. Di Baso beliau mulai mengumpulkan orang dengan mengadakan pengajian bertempat digudang kopi, yang hadir dalam pengajian itu juga termasuk orang-orang sesat dan selalu berbuat yang bertentangan dengan ajaran Agama seperti “rampok, maling, judi, menyabung ayam, pemerkosa dan perbuatan maksiat lainnya” yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Selama beliau disana segala perbuatan maksiat yang merajalela disana sudah jauh berkurang, karena beliau selalu mengadakan pengajian secara rutin setiap hari Senin. Lama kelamaan pengajian itu semakin ramai sehingga yang tadinya diadakan di gudang kopi, timbul ide beliau untuk mendirikan surau, sekarang menjadi “Surau Umum Pasar Baso” didirikan tahun 1915 Masehi atas prakarsa masyarakat sekitarnya yang dipimpin oleh Inyiak Canduang, yang sekarang berdiri megah ditengah keramaian Pasar Baso.

Berkat usaha beliau di Baso yang mampu menghim pun dan menyatukan masyarakat yang tadinya menggan drungi perbuatan maksiat yang bertentangan dengan ajaran Agama dan penyakit masyarakat lainnya, beliau diwaqafkan sebidang tanah oleh Dt. Sipado waktu itu sebagai Kepala Nagari Tabek Panjang, Baso. Waqaf itu dimaksudkan untuk membantu kesejahteraan pengajian beliau yang kini sudah menjadi sebuah klasikal bernama : ‘MADRASAH TARBIYAH ISLAMIYAH CANDUNG” dimana diatas tanah tersebut kini berdiri beberapa kios/kedai yang hasilnya dimanfaatkan untuk meringankan biaya pengelolaan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama