BAB, III.
“MENANTI KELAHIRAN”

Dahulu dijorong Batu Balantai dibawah pimpinan “Inyiak Suku”(Kepala Jorong sekarang),Kanagarian Can duang Koto laweh bermukim seorang Ulama bernama Syekh Tuangku Mudo Muhammad Rasul (1801 M), suku Guci yang ta’at dan sangat disegani oleh masyarakat, hidup rukun dan damai bersama istrinya bernama Siti Buliah,suku Caniago, Halaman Panjang keduanya sangat disegani oleh masyarakat sekitarnya dan tempat meminta nasehat dan advis bagi penduduk kampung itu.

Zaman itu adalah merupakan zaman kebesaran Adat Minangkabau, “bakoroang, bakampuang, balabuah, batapian, tolong menolong, gotong royong, jalang manjalang ” adalah merupakan kehidupan dan tradisii masyarakat dimasa itu. Adat dan syara’ keduanya kuat menguatkan, bak aua jo tabiang (ibarat aur dengan tebing), “syara’ mangato, adat mamakai, padi manguniang jaguang maupiah” rakyat sentosa nagari pun aman

Pada 1 Muharram 1297 H atau bertepatan dengan tanggal 10 Desember 1871 istri Tuanku Mudo Muhammad Rasul bernama Siti Buliah, suku Caniago, Halaman Panjang, jorong Batu Balantai, Kanagarian Canduang Koto Laweh, melahirkan seorang anak laki-laki, badannya sehat segar bugar, segala kedukaan yang diderita oleh keluarga Tuangku Mudo menjadi sirna, terlipur dengan kelahiran putra yang di idam-idamkan, sayangnya tertumpah, kasihnya tercurah

Kedua orang tuanya sangat bersyukur, serta sangat mengharapkan semoga anaknya dimasa depan sebagai “pambangkik batang tarandam, penghapus coreang dikaniang”

Habis bulan berganti tahun, Tuangku Mudo Muhammad Rasul ayah beliau memberi nama Sulaiman untuk putranya, dengan harapan,semoga anaknya kelak menjadi seorang Ulama terkenal

“Dimasa kanak-kanak”

Dari zaman kanak, Sulaiman kecil telah mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya, bermain dengan kawan-kawannya yang sebaya tidak pernah berkelahi dan memang tidak dia sukai, bahkan Sulaiman kecil lebih suka main sendirian, sambil membuat gambar-gambar rumah dan masjid, hormat kepada orang tua sangat dipenting kannya, hingga pekerjaan orang tuanya kadang-kadang ingin dibantunya.

Pada tahun 1888 Masehi atau setelah umurnya meningkat 7 tahun Sulaiman diajar sedikit-sedikit mengaji, dia tidak dimasukkan ke Sekolah Rakyat (SR). Sekolah Rakyat dikala itu belum mendapat perhatian benar oleh masyarakat, hingga anggota masyaraakat yang ingin memasuki anak pada sekolah itu sangat dipilih dari keturunan dan latar belakang orang tuanya orang berada atau orang berpangkat, anak Angku Lareh, anak Wali Nagari, Demang anak orang terpandang dan kaya.

Anak anak dikala itu diharuskan belajar mengaji Al Qur’an . Tempat mengaji yang kenamaan disaat itu ialah di Batu Hampar Kecamatan Akabiluru kabupaten Lima Puluh Kota Sumatra Barat , dengan seorang Qari bernama Syekh Abdul Rahman al Khalidi kakek dari Proklamator ( mantan wakil presiden Muhammad Hatta ) .Banyak benar dari masyarakat yang datang ke Batu hampar menyerahkan untuk diasuh mengaji Al Qur’an . Diantaranya Angku Mudo Muhammad Rasul ayah dari Sulaiman datang juga kesana mengantarkan anaknya.

Umur Sulaiman pada waktu itu 10 tahun (1881 ) .Sulaiman duduk mengaji dengan patuhnya menghadapi guru ,dan gurupun sayang kepadanya. Sekali sekali orang tuanya datang kesana sambil melihat lihat perkembangan anaknya .Sebenarnya jarak Canduang dengan Batu Hampar tidaklah bejauhan kira kira 15 kilometer .Tetapi bagi seorang ayah yang sangat cinta kepada anaknya, berpisah lama lama tentulah agak berat juga.

Syekh Abdulrahman sebagai seorang guru ,menaruh perhatian kepada Sulaiman , sebab seorang anak yang cakap dan pintar serta mempunyai harapan baik dimasa depan. Pada tahun 1309 H dua tahun mengaji disana Sulaiman pun berkhatam Al Qur’an .sesudah itu beliaupun kembali ke Canduang . Kedatangannya disambut oleh Ayah Bunda serta sanak famili dengansegala kegembiraan hati,

Setelah beberapa lama rupanya tinggal dikampung dengan teman sebaya tidaklah begitu menarik bagi Sulai man .Barangkali karena sudah biasa hidup mengaji dirantau orang.



“Benci kepada Belanda”

Secara kebetulan Angku Mudo Muhammad Rasul menyuruh Sulaiman pergi menuntut ilmu agama . Dimasa itu tuan Syekh Abdul Samad Tuanku Samiak sedang mengajar murid muridnya mengaji kitab kuning di Biaro Kecamatan IV Angkek Canduang ,kesanalah Sulaiman diantar ayahnya untuk mengaji ilmu agama Islam.
Sulaiman sangat rajin menutut ilmu ,dia memasak dan mencuci pakaian sendiri.

Sekali pristiwa , dikala Sulaiman sedang asyik mencuci pakaian kira kira jam 8 pagi dengan pakai sarung saja , tiba tiba datang tuanku Mandor (kotroleur) dari bukittinggi , bermaksud hendak bertemu dengan Angku Kapalo Nagari tapi Kapalo Nagari tidak berada ditempat ,barangkali kedatangannya tidak memberi tau lebih dahulu.Dari jauh kelihatan olehnya Sulaiman sedang tidak berpakaian datanglah kepadanya tuan kontroleur tadi lantas bertanya :

‘’Dima angku palo“ (dimaksud Kepala Nagari) kasih tahu kepadanya kedatangan saya, Kata Kontroleur menambahkan

Sulaiman tidak menjawab malah kain sarungnya diangkat keatas dan dia menungging tanpa celana sehingga “peluru kendalinya kelihatan menggelantung dia membelakang kepada tuanku kontroleur tadi seolah olah menghinanya.

Agak berang dan malu nampaknya tuan kontroleur hingga dicarinya “Angku Kapalo Nagari” dengan peranta
raan orang lain. Kepada Angku kapalo Nagari disampai kannya kelakuan Sulaiman yang menghinanya tadi. Waktu itu juga alat pemerintah Belanda pergi mencari ke surau tempat Sulaiman, kawannya heran dantidak tau apa sebabnya dicari oleh tuan kontreoleur tadi.Kotroleur pergi kesurau dan melihat Malin Basa (murid berpakaian sarung merah seperti Sulaiman tadi lantas ditarik tariknya kuping Malin Basa itu.Temannya semakin heran ,apakah sebab kejadian demikian.

Untunglah kejadian itu tidak berlanjut dan diambil perkara dan selesai sampai disitu saja dengan alasan karena dia masih anak-anak.

Disini jelaslah oleh kita , nahwa bibit kebenciannya terhadap Belanda sudah sejak zaman kanak-kanak sudah tertanam dalam hati Sulaiman.

“Ke Sungayang”

Pada usian 21 tahun (1892 M) Sulaiamn Sulaiman pindah lagi belajar mengaji mengaji ke Sungayang, Batu sangkar, Kabupaten Tanah Datar dengan Tuanku Kolok. Tidak lama disini, Tuanku Kolok pindah ke Canduang, karena salah seorang guru di Canduang itu meninggal dunia, jadi beliau Tuanku Kolok yang menggantikan, dengan sendirinya Sulaiman terpaksa ikut pindah mengikuti gurunya dan kebetulan kekampung sendiri.

Dalam masa menuntut Ilmu, Sulaiman benar-benar mempergunakan waktu belajar dengan sungguh-sungguh, waktu bermain-main baginya sangat sedikit sekali. Tuan gurupun sayang kepadanya, apalagi dia seorang murid yang terpandai. Disamping itu budipekertinya sangat terpuji, dalam pergaulannya sehari-hari dia menyakiti teman bermainnya apalagi mengeluarkan kata-kata kotor. Pekerjaannya selalu bersih, makan dan minum tetap tepat waktu.

Kepada orang tua-tua beliau sangat hormat dan memuliakannya. Apa saja yang disuruh, Sulaiman selalu patuh, membaca dan menulis sangat disenanginya, tapi menulis huruf latin tidak dipelajari, karena tidak masuk sekolah Rakyat dan sekolah lainnya.

Pada tahun 1896 M, atau 1315 Hijriyah, Sulaiman dalam usia 25 tahun pada suatu kesempatan Tuanku Kolok gurunya berucap :

“Sulaiman, menurut pendapatku, kamu sebaiknya menyambung pelajaran mengaji di Halaban, Koto Kaciak, Suliki, sebab disana sedang ramai-ramai-ramainya orang mengaji kitab disana”

“Baiklah, kalau begitu, saya akan rundingkan dulu dengan orang tua saya”. Kalu beliau setuju, saya pun, berharap demikian” Jawab Sulaiman

Tuanku Mudo Muhammad Rasul ayah Sulaiman sangat setuju sekali, Sulaiman melajutkan belajar menga ji disana, karena di Halaban tersebut, pengajian Halaqah dipimpin oleh Abdullah dan muridnya sangat ramai sekali yang datang dari berbagai daerah.

Halaban terletak dikecamatan Suliki Gunung Mas tidak jauh dari Payakumbuh yang berbatas dengan Tanju ang Bonai, Litau, Kabupaten Tanah Datar.

Selama 6 tahun lamanya Sulaiman belajar di Halaban, tuan Syekh Abdullah sebai gurunya disana sanga piawai mengajarkan Ilmu Hadis, Fiqh dan Nahu, Syaraf dan sangat mudah dicerna oleh Sulaiman, mata pelajaran yang disukai oleh Sulaiman, selama di Halaban dia sangat pintar berbaul dengan sesama pelajar dan masyarakat kampung disana. Karna kemampuan ilmunya yang dipelajari disini sudah cukup menguasai dan dianggap mampu. Oleh sang guru Syekh Abdullah diangkat sebagai guru bantu.

“Bergaul dengan parewa”

Teman “samo gadang” (sesama besar ) tidak suka bermain dengannya, Sulaiman lebih senang bermain dengan dengan orang dewasa, pergaulannya dari kecil sudah memperlihatkan kharismanya bahwa Sulaiman kelak akan menjadi orang terpandang.

Suatu ketika Sulaiman nimbrung bermain dengan orang-orang yang suka main judi dan menyabung ayam. Memang diakui, bahwa tidak jauh dari tempat ayah beliau mengajar mengaji terdapat sebuah Pakan (tempat orang berjualan pada hari-hari tertentu) disebut orang “Pakan Kamih” disini orang melakukan transaksi hasil bumi (berjualan), pengunjung pasar itu berdatangan dari berbagai penjuru dan ramainya setiap hari Kamis. Tidak jauh dari situ, dibatasi semak belukar dibalik Pakan itu terdapat sekelompok orang orang sedang “main judi dan menyabung ayam”, bahkan ada yang sedang minum tuak.

Sulaiman ikut nimbrung diarena itu sekaligus ingin tahu bagaimana cara orang bermain, dan ingin menyiasati para penjudi itu, bagainama caranya mengajak mereka agar kembali kejalan yang benar, sebab yang dilakukan orang-orang itu sangat bertentangan ajaran Agama Pada gilirannya sekelompok orang yang tengah asyik main judi “barambuang dan manyabuang ayam” itu. Sulaiman ditegur oleh orang-orang “parewa” yang disana dalam bahasa Minangfkabau:

“hai Leman, awaang urang siak, manga ikuik pulo kasiko” (Hai Sulaiman, kamu orang santri, mengapa kesini)

Seraya dijawab oleh Sulaiman:

“Ambo kanyiak ingin manunjuak an ba a carono ba ampok ko supayo bisa manang” (Saya kesini ingin memberi tahu bagaiman caranya supaya main judi itu bisa menang).

Mendengar ucapan Sulaiman tersebut, beberapa orang diantara yang ikut berjudi itu sangat tertarik dengan ucapannya seraya mendekatinya dan berucap:

“Iyo Leman, Ambo kalah sajo taruih, kini pitih den alah abih, baa caro supayo manang”.(benar Sulaiman, saya kalah saja terus, sekarang uang saya sudah habis, bagaimana caranya supaya menang)

Kemudian beberapa orang dari peserta judi itu diajak berbisik oleh Sulaiman dan disuruh membaca:

“Bismillahirrahmanirrahim” dan beberapa ayat lainnya, setiap mengawali permainan judi, bisik Sulaiman kepada penjudi itu

Tuhan berkehendak, sudah petunjuk untuk mengembalikan kesadaran para penjudi itu kembali meninggalkan perbuatan penyakit masyarakat tersebut bisikkannya terkabul dan mereka semuanya menang dan lama-kelamaan orang-orang itu jadi akrab dengan Sulaiman yang sudah beranjak dewasa.

Tanpa berbilang tahun, pelaku penyakit masyarakat, satu persatu mendatangi Sulaiman meminta petunjuk, bagaimana caranya “menang main judi”. Dengan cara halus beliau memberikan petunjuk kearah lain yangg tidak bertentangan dengan Agama dan kehidupan masyarakat yang lebih layak.

Memang diakui, bahwa pada dekade itu dinegeri ini sangat gencar polah dan perilaku penduduk dengan kehidupan “berjudi, mabok-mabokan (minum tuak), menyabung ayam, maling, rampok dan penyakit masya rakat lainnya”. Pada saat itu keyakinan masyarakan terhadap kehidupan beragama sangat masih rendah, akibat pengaruh dari penjajahan Belanda dan animisme masih tertanam dibenak penduduk

Akhirnya dalam kesempatan itu para “parewa” itu menjadi akrab bahkan keseluruhnya menjadi tobat dan mendukung segala gagasan yang dicetuskan oleh Sulaiman dan menjadi mitranya untuk menegakkan Agama Islam dikawasan itu. Sehingga tanah pasar (pakan) yang disebut “Pakan Kamih” tempat orang main judi dan menyabung ayam tersebut menjadi berubah dan berdiri megah bangunan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung sampai sekarang.

“Sedang belajar, menikah”

Pada usia 20 tahun, cita-citanya sangat tinggi, sedangkan kepada ayahnya Tuanku Muhammad Rasul, sudah banyak orang melamarnya untuk diambil jadi menantu. Tapi masih ditolak oleh ayahnya. Berkat diplomasi “niniak mamak” yang bertubi-tubi datang melamarnya, akhirnya “bulek aia ka pambuluah, bulek kato jo mufakat” Sulaiman tidak dapat mengelak lagi, diterimalah “siriah” dari suku Guci Dt. Mantiko Agam Pauah, Batu Balantai, sebagai tanda pinangan kepada seorang gadis remaja dan cantik sebagai calon istrinya bernama “Syafiah” dan beberapa hari kemudian dinikah kan pada hari Jum’at, 2 Zulhijjah 1318 H (1901 M) saat itu Sulaiaman masih belajar di Halaban. Pada tahun 1902 M (1321 H) kembali ke Canduang dan akan hidup berdampingan keluarga dan isttri tercinta dan ingin memperlihatkan tanggung jawab dalam rumah tangga.

Usia 26 tahun, sudah rukun berumah tangga dan berhasil menyesuaikan diri sebagai suami istri, dan tiga tahun kemudian timbul niat Sulaiman untuk menunaikan ibadah haji . Disaat sedang berkasih sayang , tiba saatnya untuk berpisah. Pada suatu hari berekatalah Sulaiman kepada istrinya:

“Adinda” ucap Sulaiman
Jika diizinkan Allah, kanda berniat ingin menunaikan Ibadah haji berangkatnya tahun ini. Lepaslah kakada untuk sementara waktu. Maksud kakanda berkeinginan untuk belajar disana beberapa tahun menambah Ilmu.

Agak lama istrinya memberikan jawaban, diwajah terbayang perasaan cemas dan duka, tapi hatinya bersedia untuk berpisah demi cita-cita suaminya, dibalik itu terba yang dalam benaknya masa depan suaminya bila kelak sekembalinya dari tanah suci akan menjadi orang terpan dang.

Dengan perasaan untuk berpisah, “Syafiah” istri Sulaiman setuju melepas suami untuk berangkat ketanah suci Makkah dengan syarat selama ditanah suci dia enggan dimadu, walau apapun yang akan terjadi. Ia merelakan keberangkatan sang suami tercinta untuk selama tiga tahun disana disampaikan dalam sebuah pantun orang Minangkabau:

Silasiah bajurai daun
Jatuah badarai-darai
Duo tigo salaronyo
Kasiah nan kito susun
Dibao bacarai-carai
Iman didado diruruahnyo

Melalui Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, pada tahun 1904 berangkatlah kapal yang ditumpangi Sulaiman menuju arah Pulau Pinang dan selanjutnya menuju pelabuhan Jeddah, Arab Saudi. Kelihatannya agak sedih juga Sulaiman meninggalkan kampung halaman karena berangkat seorang diri. Akan tetapi demi cita-cita yang luhur dia korbankan segala-galanya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama