B A B, II.
PANORAMA DAN BEBERAPA PENINGGALAN SEJARAH

“:Bukik Bulek”

Kalarasan Canduang yang diapit oleh 2 buah gunung yaitu Gunung Marapi dan Singgalang, dikawasan ini banyak menyimpan legenda dan panorama yang indah seperti “Bukik Bulek” yang terletak diujung timur gunung ini dalam Knagarian Canduang Koto Laweh dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun manca negara, karena keindahana panoramanya, dikawasan ini ditumbuhi oleh cassiavera (kayu manis) dan Markisa yang ditaman oleh anak Nagari sebagai sumber mata pencaha rian atau ekonomi masyarakat.

Disini jika anda mengarahkan pandangan kearah utara, akan nampak jelas nagari disebelah ranah Tanah Datar diatas hamparan yang menghijau dengan panorama yang indah seolah-olah anda tidak mampu meninggalkan “Bukik Bulek” ini karena mempunyai daya tarik tersendiri dan patut dikunjungi oleh siapa saja untuk menikmati kekayaan alam

Bila kita menelusuri kearah barat dengan berjalan kaki disepanjang lereng Gunung Marapi, terkesan indah dan dapat dijadikan obyek Wisata, tapi belum tersentuh oleh para investor.

Menurut hemat penduduk disana yang kental dengan ajaran Agama, bahwa objek-objek wisata pada umum sangat identik dengan menumbuhkan kembangkan penyakit masyarakat yang nota benenya kawasan wisata pada umumnya selalu dikunjungi kaula muda atau remaja-remaja yang berpasang-pasangan bukan muhrimnya

Justru dengan dasar demikian Kalarasan Canduang yang sangat kental adat dan Agama, sehingga para investor bidang Pariwisata enggan menanamkan modalnya, dikhawatirkan tidak mendapat sambutan dari masyarakat.
“Gaduang Lareh”

Sepanjang perjalanan arah ke Barat dilereng gunung Marapi tersebut, juga terdapat bekas bangunan tua yang disebut “gaduang Lareh”. Sampai kini tidak pernah disentuh untuk “dilestarikan” oleh Direktorat Jenderal Benda Bersejarah dan Kepurbakalaan, Departemen Sosial, sebagai monument bersejarah, sehingga bangunan itu hancur ditelan masa. Ini dibuat pada zaman kejayaan pemerintsahan Lareh Canduang dengan cara bergotong royong berikut materialnya bersama penduduk Tujuah Nagari. Disini pemandangannya sangat indah dan menawan sekali bila kita berkunjung kesana.
Tujuan dibuatnya “Gaduang Lareh” ini adalah tempat peristirahatan tamu-tamu Lareh, seperti petinggi pemerintahan zaman Belanda

“Karang Panjang”

Bila kita menapaki dengan berjalan kami sepanjang dilereng Gunung Marapi tersebut, anda pasti menemukan kawasan yang indah dan berlekuk yang belum terjamah oleh pemodal wisata dan sangat cocok dibangun sebagai sumber air bersih untuk penduduk dan sumber pengairan persawahan rakyat, lokasinya sangat strategis bila dibangun tempat “Pemandian” sambil berdarmawisata, airnya sangat bersih dari sumber mata air, jika dibuat bendungan niscaya ini dapat menyerap wisatawan sambil berlibur disana untuk menghirup udara segar dikaki pegunungan yang sejuk dan nyaman, lokasi ini bernama “Karang Panjang” Indah dan alami bila disini dibuat tempat peristirahatan. Sudah barang tentu bila pihak investor berani menanamkan modalnya, potensi ini akan mendatangkan nilai tambah bagi pembangunan Nagari. “Karang Panjang” ini terletak dilingkungan kelompok masyarakat Lasi Tuo.




“Panorama Pasanggrahan”

Pada zaman keemasan Lareh St. Rajo Malenggang bekerja sama dengan pemerintahan Belanda Ford de Kock dan Luhak Agam dibangun sebuah “Pasanggrahan” sebagai tempat peristarahan bagi petinggi Belanda yang datang ke Ford de Kock atau petinggi Districk lainnya yang datang melakukan inspeksi ke wilayah ini. Disini dilengka pi dengan berbagai fasilitas bangunan villa yang terbuat dari kayu dengan ukiran ciri khas Minangkabau dan tungku api unggun, karena

Di “pasanggrahan” ini suhunya sangat dingin sekalidibawah 15 derjat Celsius, karena terletak dikaki gunung Marapi, maka diperlukan api unggun untuk mensirkulasi suhu menjadi hangat. Ditempat ini para petinggi Belanda beristirahat setelah melakukan tugas-tugas menyusun strategi memperluas dan memperkuat jajahannya.

Memang diakui, bahwa dikawasan ini bila kita memandang kearah Utara, Timur dan Barat terlihat hamparan hijau pepohonan dan padi menguning sebagai keindahan alam dengan suhu udara sejuk dan nyaman ditambah puluhan batang dengan desiran daun “Kayu Aro” yang ditiup angin sengaja ditanam untuk menambah keindahan alam.

Serasa bagi pengunjung “bak disinggasana yang bertatahkan emas” dan tidak akan mau beranjak dari sini menunggu kepuasan menikmati keindahan “Panorama Pasanggarahan” yang terletak di Jorong Lasi Mudo, Kalarasan Canduang, (Kecaamatan Canduang). Kini bangunan yang dibuat pada zaman kejayaan Lareh Canduang zaman pemerintahan penajahan Belanda sudah sirna dibakar oleh masyarakat sewaktu melawan Belanda pada Agresi Ke II, dengan dibakarnya Pasanggarahan itu dimaksudkan supaya sang penjajah jangan membentuk dan membuat benteng pertahanan disini



“Galanggang ‘Awa”

Sebuah bukit sampai sekarang tidak ditumbuhi oleh pepohonan, entah apa sebabnya, tapi tidak pula tandus, karena disana masih terdapat tumbuhan rerumputan, bila pembaca ingin tahu asal usul keberadaan bukit ini adah tempat bersidang para “dewa” pada zaman jahiliyah dahulu sebelum masehi, konon “tempo doeloe” mencapai kawasan sebagai penghubungnya menuju puncak bukit ini terdapat “janjang saribu”, sekarang sudah dibuat jalan menuju puncak bukit itu serta tangga seribu sudah dilestarikan oleh anak nagari sekitar. Tempat ini sudah mulai digarap oleh anak nagari Kanagarian Lasi dan sudah ramai didatangi pengunjung domestik.

Yang menarik disini adalah sebagai peninggalan sejarah dengan pemandangan oanoramanya yang indah dan berkesan bagi yang sudah pernah datang menikmatinya. Tempat ini diberi nama “Galanggang Awa”

“Sarasah batingkek tujuah”

Rupanya keindahan dan keajaiban yang terdapat dikawasan Gunung Marapi banyak sekali tersimpan didalam nya dan belum tersentuh dijadikan objek Wisata. Kira-kira ketinggian 2000 meter atau dipinggang gunung Marapi terdapat air terjun tujuh tingkat lebih dikenal oleh masyarakat setempat “Sarasah tujuah tingkek” dengan struktur keindahan bagaikan sudah didisain sehingga indah menawan. Sebab diantara satu dengan yang lain setiap tingkatan memberi arti tersendiri, sulit dibayangkan keindahan,sehingga bagi pengunjung yang datang kesana ingin berlama-lama di “Sarasah batingkek tujuah” ini .

“Bantaran Kudo”

Lain lagi dengan cerita yang satu ini sangat unik, tapi boleh percaya, boleh tidak disini terdapat “Bantaran Kudo” menurut cerita tuo-tuo dikampung itu terdapat sebuah batu yang sangat lebar dan datar, disini tempat berlatihnya harimau-harimau (“inyiak”) peliharaan orang-orang gaib, kini masih banyak bermukim disana dan tidak mengganggu bagi orang yang berkunjung kesana. jika berkunjung kesana. Pengunjung dituntut “tidak takabur dan tidak berlaku a susila” bila membawa pasangan bukan muhrim kesana. Dan sebaiknya turis domestik bila mau berkunjung kesana lebih baik cari informasi dulu melalui kantor Wali Nagari Lasi.

Batu yang berdiameter tiga meter itu juga sekali gus untuk mengasah kuku harimau piaraan orang-orang gaib itu. Kepada pengunjung mereka sangat sopan dan tidak pernah mengganggu, mereka menghindar bila tempatnya dikunjungi pelancong.

Dan patut diketahui pengunjung yang datang kesitu, “Jika bersifat takabur dan berbuat a susila” disitu, dan bila ingin kembali (pulang) mereka kehilangan jejak, sehingga mereka hilang ditelan rimba tidak bisa sampai ditempat tujuan, hilang ditelan hutan. Jadi kekawasan/objek ini harus sangat berhati terhadap pantangan yang tersebut diatas.
“Pasa manjua Urang”

Pada zaman jahiliyah, sebelum masuknya agama islam ke Minangkabau dibawah tahun 1550 Masehi, kehidupan masyarakat masih bersahaja, kebanyakan dianataranya hidup berpindah-pindah dalam kelompok kecil, pakaian mereka hanya terbuat dari kulit kayu dan mereka belum mengenal ajaran agama dan peraturan perundang-undangan, mereka masih menganut paham “urakan” dan animisme.

Ditengah-tengah kehdupan yang tidak menentu, yang merasa berani, itulah dia tampil berpengaruh dan mengatur kelompoknya. Pada zaman itu pula kehidupan masyakarat serba sulit, sedangkan mereka belum mengenal koridor hukum, baik agama, maupun hukum yang diatur dengan Undang-undang dan menghalalkan segala cara. Waktu itu pulalah berlaku prdagangan manusia, sama halnya dengan Arab Saudi pada zaman jahi liyah memperjual belikan manusia yang akan dijadikan budak dengan sebutan budak belian.

Konon pada zaman itu diketinggian 2300 meter dari permukaan laut atau dipinggang gunung Marapi terdapat sebuah lokasi yang disebut sebagai “Pakan manjua urang”
yaitu sebuah Pakan (pasar) untuk memperdgangkan manusia.

Menurut cerita “Tuo-tuo” disitu setidaknya satu kali dalam seminggu orang-orang dari berbagai penjuru berdatangan ke lokasi itu, ada yang membawa orang-orang yang akan diperjual belikan, dan ada yang datang sendiri-sendiri sebagai calon pembeli, sepertinya kawasan itu sudah ditata dengan baik diatas sebuah puncak bukityang sekelilingnya curam yang ditumbuhi pohon-pohon kayu berbagai jenis. Puncak bukit itu seperti sudah ditata dan diratakan, luas lebih kurang setengah hektar dengan batu-batu besar yang diatur letaknya dan dibentuk menyerupai korsi, sebagai tempat istirahat padagang manusia disana. Sebagai bukti, bahwa dibatu=batu tersebut terdapat tulisan Jawa Kuno.

Menurut cerita Tuo-tuo setempat memang pada zaman itu terjadi perdagan manusia ditempat itu untuk mereka jadikan budak, jika sipembeli manusia itu sudah emndapat beliannya, lantas dibawa pulang dan dijadi sebagai budak untuk diperkerjakan, jika budaknya perempuan diperlakukan berbuat tidak senonoh. Demikian seterusnya. Agar pembaca yakin dan percaya silakan datang untuk menyaksikan bekas “Pakan manjua Urang” tersebut

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama