BAB. I.
ASAL USUL

“Zaman pemerintahan Belanda”

Hamparan yang menghijau, dikaki gunung Marapi, Kicau murai dan burung beterbangan, pertanda keceriaan satwa ini, sebagai menunjukkan keramahan negeri ini. Kesejukkan udara 18 derjat celsius dan kesuburannya serta keindahan alam, adalah perlambang kekayaan negeri ini.

Deru dan desiran air terjun yang memecah kesunyian dikaki gunung Marapi, memang diakui, bahwa dikawasan gunung ini banyak terdapat air terjun sebagai sumber air untuk membasahi sawah-sawah anak “nagari” lambang kesuburan. gemericik air embun menerpa dedaunan diseluruh penjuru dipagi itu diselingi suara burung yang berterbangan menampakkan keceriaanya menyambut sang fajar yang akan berganti dengan siang.

Konon, “tempo doeloe” awal dari zaman penjahahan Belanda masuk menduduki kawasan bukit barisan dipulau Andalas Tengah (Sumatera bagian Tengah)) tahun 1585 masehi, disini mereka bercokol sehingga tempat ini mereka beri nama Ford de Kock (sekarang Bukittinggi). Dalam tempo yang singkat kekuasaan penjajahan Belanda sudah merambah dan menyebar sampai kepelosok negeri ini dan membentuk pemerintahan sendiri dengan cara mereka pula, sehingga kekuasaan pemerintahan yang berlaku sebelumnya yang terkenal dengan budaya Minangkabau dengan filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” tidak diakui dan berlaku lagi oleh penjajah Belanda.

Kira-kira 11 kilometer dari Ford de Kock ke timur arah Payakumbuh sekarang, terdapat sekelompok kampung dihuni oleh masyarakat kecil yang bersahaja yang kehidupan sehari-hari hanya dengan hasil bercocok cara tradisionil, bahkan perkampungan kecil lebih banyak ditumbuhi oleh pepohonan dan semak belukar pada zaman itu kampung itu masih memiliki jalan setapak dan belum ditempuh roda atau kendaraan dan memang pada saat itu kendaraan sepeda atau berkuda hanya dimiliki oleh kompeni Belanda untuk mobilitas pemerintahannya dan masih dapat dihitung dengan jari. Pada dekade itulah pemerintah Belanda memperluas jajahannya dengan membentuk pemerintahan Kelarasan (Lareh) sebagai penguasa terendah dibawah Kepala Luhak Agam Tuo. Dan memang sangat jauh berbeda dengan perkampungan lain dalam Luhak Agam Tuo lainnya yang perkampungannya sudah mulai tampak ramai.

Lareh yang disegani”

Pada zaman itu, penguasa terendah dinegeri ini dipimpin oleh seorang Laras (Lareh) dengan wilayah cakupannya meliputi beberapa Kecamatan sekarang, saat itu pengaruh penguasa penjajah Belanda sangat tinggi “arogansi” nya sehingga kekuasaan pemerintahan Lareh harus mampu menyesuaikan kemauan penjajah Belanda. Demikian juga Syamsudin Rajo Malengang, Lareh Canduang kepada rakyatnya agar disenangi atau “tidak melakukan tindakan sewenang-wenang”, sehingga Lareh dengan manti dubalangnya atau anak buahnya sangat dilarang memperlihatkan “arogansi kekuasaan” atau selalu tidak diperkenankan bertindak kasar dan bertangan besi kepada rakyat.selalu bertindak arif, bijaksana walaupun mengikuti perintah dari penguasa Belanda lebih dari itu. Kemudian sang “Lareh” disegani oleh rakyatnya, dalam memerintah yang sangat arif dan bijaksana.

Atas kemauan penguasa Belanda zaman itu, dan perintah Kepala Luhak Agam Tuo seluruh Lareh yang ada dibawah kekuasaannya diperintahkan untuk untuk menata perkampungan yang terisolir agar segera memberdayakan rakyat di Kelarasan masing-masing untuk membabat perkampungan yang masih banyak ditumbuhi semak belukar dan pepohonan.

Oleh Rajo Malenggang Lareh Canduang, diperintahkan lah seluruh manti dan dubalang serta opas sebagai pembantunya dengan menggunakan kendaran berkuda masuk lorong kampung sembari membawa dan memukul sebuah “canang”(sejenis gong kecil) untuk memberi tahu penduduk untuk berkumpul pada suatu hari disebuah lapangan mendengarkan wejangan sang Lareh. Pada waktu itu rakyat diperintahkan membawa alat-alat untuk kerja bakti. Seperti : pangkua (tajak) beliung, kapak, parang, golok, ladiang atau canduang, memang benar, pada saat itu penduduk disana dalam keseharian yang mengandal hidup dengan bertani alat=alat kerjanya seperti tersebut diatas

Memang diakui, bahwa nama Kalarasan Canduang waktu itu masih belum populer dan selalu oleh pemerinta han Belanda supaya nama Kalarasan agar dicari bersama dengan rakyat untuk dipopulerkan.

Pada kesempatan itu, rakyat dikumpulkan dilapangan waktu itu dimanfaatkan oleh sang Lareh untuk memberikan wejangan dengan suara berapi-aoi Lareh Syamsudin Rajo Malenggang menjelaskan bahwa, nama Kalarasan belum populer dimata pemerintahan Belanda dan belum diagendakan dalam buku pemerintah karena masih tergolong baru.

“Wahai rakyaikku, penduduak Kalarasan” demikian Lareh Syamsudin Rajo Malenggang dalam pembukaan kata Lareh awal wejangannya diatas panggung yang sudah dipersiapkan “dimedan nan bapaneh”, tanpa menggunakan pengeras suara (pada saat itu belum ada yang memiliki).

Massa dikumpulkan dari tujuah nagari dikalarasan itu, yaitu, Canduang, Koto Laweh, Lasi Tuo, Lasi Mudo, Pasanehan, Bukik Batabuah, Batabuah Koto Baru.

“Hariko, kito bakumpua disiko, untuak mancari namo Kalarasan kito nan pas, buliah kito laporkan ka Pa marentah nan diateh, apo nan rancak?”dalam bahasa Minang yang medok dan suara lantang (hari ini kita berkumpul disini, untuk mencari nama Kalarasan kita yang pas, biar kita laporkan ke pemerintahan yang lebih atas.

Dengan suara gegap gempita para hadirin yang hadir semacam gerakan reflek dan spontanitas, berteriak serta mengacung-acungkan parang ditangan seraya berseru secara serentak “Canduang –Canduang” beberapa kali, sehingga menimbulkan suara gemuruh menggelegar.

Memang pada saat itu seluruh yang hadir dilapangan itu semuanya membawa parang yang dimaksud sekaligus untuk bergotong royong membabat semak belukar dan mnenebang pepohonan untuk menata perkampungan dan berkebetulan “parang” itu artinya zaman itu dalam bahasa harian masyarakatdisana sama dengan “Canduang”.

Atas suara masyarakat yang mengacung-acungkan “Canduang” (parang) dengan gemuruh, maka ditetapkan lah nama Kalarasan setempat dengan nama “Kalarasan Canduang”, Maka populerlah Kalarasan Canduang, kini emnjadi Kecamatan Canduang, demikian asal usul nama Canduang jadi lengket dihati masyarakat setempat dan dikalangan pemerintahan sekarang.

Pada era Pemerintahan Lareh Syamsuddin Rajo Malenggang, suku Sikumbang di Jorong Batu Balantai, terdapat sebuah rumah “gadang ba anjuang” yakni sebuah rumah yang menyerupai bangunan persis sebagai duplikat yang terdapat di Pagaruyung pusat kerajaan Minangkabau yaitu rumah Adat yang berciri chas dengan ukiran dan ornamen-ornamen seni bernilai tinggi menimbulkan decak kagum keindahannya, menggambarkan pomiliknya adalah penguasa atau orang kaya. Pembangunannya juga dikerjakan secara gotong royong berikut materialnya ditanggung oleh masyarakat 7 Nagari Kalarasan Canduang. Inilah rumah Lareh Canduang.

Pada masa pemerintahan Lareh Canduang, kegiatan masyarakat untuk kepentingan Kalarasan “tiada hari tanpa gotong royong” , memang demikianlah kejadiannnya setiap hari disini, dilakukan scara bergilir bersama penduduk “tujuah nagari” yaitu : Canduang, Koto Laweh, Lasi Tuo, Lasi Mudo, Pasanaehan, Bukik Batabuah, Batabuah Koto Baru. Hal ini dilakukan adalah untuk membuat asset Kalarasan yang hasilnya sebagai biaya kegiatan Lareh. Salah satu contoh sperti tersebut diatas “membuat rumah gadang” untuk kemegahan. Sekarang masih menjadi saksi bisu terdapat sawah “Lansano” milik Lareh lokasinya disimpang Koto Kubang, Jorong III Kampuang, Canduang yang kini diwariskan kepada kemenakan dan cucunya keturunan suku Sikumbang

Demikian juga untuk turun kesawah diperintahkan Opas Malin Silan berkeliling kampung dengan memukul “canang” untuk mengerahkan masyarakat agar ikut turun kesawah sang Lareh dengan membawa ternak buat membajak sawah (“manyikek”) dengan alat-alat lengkap masing-masing, Juga jika musim panen tiba seperti “manyabik, mairiak” Opas Malin Silan kembali “mangguguah canang” mengerahkan rakyat Kalarasan ber “rodi atau kultur stelsel” (istilah pemerintah zaman penjajahan Belanda).

Setelah beberapa tahun Lareh Syamsuddin Rajo Malenggang meninggal dunia, “rumah gadang ba anjuang” itu terbakar ludes dilalap api bersama isinya, ulah salah seorang bocah bernama Kari Payan, suku Pili bermain api “mambaka karisiak”dengan teman-temannya dalam “parak pisang” dekat” rumah gadang ba anjuang”. Itu yang kini tinggal kenang an. Masalah ini didiamkan saja, karena yang berbuat adalah bocah-bocah yang belum ada akalnya, dari pihak keluarga keturunan Lareh tidak bisa berbuat banyak, selain mengusap dada dan dihadapinya dengan kepala dingin.

Didalamnya terdapat beberapa benda bersejarah, seperti miniatur beringin yang terbuat dari mas 24 karat setinggi satu meter ludes dilalap api.

Sebagai kenangan kawasan itu populer disebut masyarakat sebagai “Simpang Anjuang”. Memang disini terdapat persimpanngan menuju “rumah gadang ba anjuang” kediaman Angku Lareh kawasan yang bersejarah itu. Sekarang makam beliau dilestarikan oleh Direktorat Jenderal Benda Bersejarah & Kepurbakalaan, Departemen Sosial R.I sebagai makam orang terpandang dan bersejarah dalam perjuangan bangsa mengisi khasanah dan budaya dalam lembaran sejarah yang patut dikenang dan ditulis “dengan tinta emas” oleh masyarakat Canduang, khusus bagi penduduk Kanagarian Canduang Koto Laweh.

Memang, semasa pemerintahan Lareh Syamsuddin St. Rajo Malenggang bagi rakyat yang dibawah kekuasaan nya tiada hari, tanpa gotong royong, karena sang Lareh sangat disegani, sehingga pekerjaan gotong royong untuk berbagai kegiatan seperti pembuatan tali air (saluran tersier), pembuatan jalan ditingkatkan nagari dari jalan setapak, pembagunan sekolah, surau, masjid sebagai tempat ibadah dan gotong royong untuk memperbaiki fasilitas rumah dan kantor Lareh, ini sudah dapat dikatakan semacam “rodi atau kulturstelsel”

Hampir setiap hari, ada saja yang akan digotong royongkan, kadangkala bagi penduduk 7 Nagari digilir sampai kepada membuat “rumah gadang” juga digotong royongkan secara bergilir, membuat sawah (“manaruko”) dikerjakan secara gotong royong dan digilir per Nagari.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama