Perlu dibaca secara teliti dan berulang agar dipahami secara benar
Kecerdasan
Mutu diri setiap manusia berawal dari informasi yang masuk dari luar ke dalam dirinya. Informasi masuk kedalam diri manusia melalui pancaindera: penglihatan, pendengaran, perasaan/perabaan, penciuman, dan pengecapan. Informasi tersebut dari manapun datangnya adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan kesalahan/kebenaran, atau keburukan/kebaikan pada diri orang yang menerimanya. Karena itu informasi tersebut perlu diidentifikasi/dikenal/ dipahami lebih dulu untuk menentukan apa informasi tersebut benar atau tidak, yang akhirnya disetujui atau ditolak. Pemahaman terhadap informasi menentukan mutu dan benar/salahnya suatu keputusan yang diambil kemudian. Kesalahan dalam pemahaman akan menghasilkan keputusan yang salah dan bermutu rendah, sebaliknya pemahaman yang benar dan baik akan menghasilkan keputusan yang benar dan bermutu tinggi. Ini pasti. Identifikasi terbaik adalah dengan menggunakan media intelligence/kecerdasan otak, emotional/kecerdasan perasaan, dan spiritual/ kecerdasan hati (3 dimensi diri manusia). Memahami informasi yang masuk dengan menggunakan media yang sesuai adalah suatu tindakan cerdas. Pedoman untuk identifikasi adalah referensi/rujukan yang benar yang mengandung pengetahuan yang relevan dengan informasi tersebut. Khusus dalam masalah keagamaan/ibadah rujukan mutlak diperlukan. Suatu ibadah yang tidak sesuai dengan rujukan atau tidak seperti yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW tidak sah, jadi tidak diterima. Pedoman dan pengetahuan untuk keperluan rujukan bagi ibadah terdapat dalam al Quran & Hadits. Mengidentifikasi informasi dengan menggunakan media dan pedoman yang sesuai adalah suatu tindakan lebih cerdas. Jadi seorang yang cerdas selalu mengkonfirmasikan sesuatu yang diterima, dilihat, dan didengarnya kepada rujukan yang sesuai sebelum ia menyetujui atau menolaknya.
Pengetahuan
Bekal/ alat pertama yang diberikan oleh Allah kepada Adam, manusia pertama setelah ia diangkat menjadi khalifah sekalian sebagai pengelola bumi adalah ‘pengetahuan’ (al Quran srt al Baqarah: 31). Hal ini berarti bahwa pengetahuan adalah alat utama bagi manusia agar berhasil mengelola dan memanfaatkan bumi dan isinya dengan baik. Artinya lagi seorang yang mempunyai pengetahuan yang diperlukan akan memperoleh kehidupan yang bermutu tinggi di dunia dan mampu menyiapkan kehidupan yang baik di akhirat. Tetapi bukan berarti untuk memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, sesorang harus memperoleh pendidikan sampai S3 dalam satu bidang ilmu pengetahuan, dan bukan berarti bahwa seorang yang tidak mempunyai gelar kesarjanaan bidang pengetahuan tertentu adalah tidak berpengetahuan. Maksud dari pengetahuan diatas adalah pengetahuan tentang eksistensi, kebesaran dan kekuasaan Allah yang mempunyai 99 dimensi (asmaul husna) yang terdapat dalam al Quran, dan pengetahuan turunan (dari ayat-ayat al Quran) hasil dari penelitian dan pengembangan dari aya-ayat Allah dalam al Quran seperti ilmu ekonomi, manajemen, sosiologi, hukum, pertanian, dsb. Kedua jenis pengetahuan diatas mutlak diperlukan oleh sesorang untuk peningkatan mutu kehidupan di dunia, dan mutu ibadah untuk kehidupan akhirat.
Hati
Sesuatu yang paling tinggi nilainya dalam diri seorang manusia adalah ‘hati’. Hati yang mengendalikan cara berpikir dan cara berbuat. Karena itu hatilah yang menentukan mutu diri lahir batin seseorang. Seorang yang mempunyai hati yang baik akan mempunyai diri bermutu tinggi, dan tentu akan menaikkan mutu kehidupan dunia dan akhirat. Sebaliknya bila seseorang berhati buruk, dirinya akan bermutu rendah, dan menurunkan mutu kehidupan dunia dan akhirat, walaupun di dunia ia terlihat berkehidupan tinggi. Hati berada dalam diri kita, dan sebagai terminal untuk berkomunikasi langsung dengan Allah. Karena itu jagalah hati agar tidak menjadi hati yang keras membatu, hati tertutup, atau hati yang mati. Hati yang lembut mudah bergetar ketika melihat/mendengar sesuatu yang baik, atau suatu keadaan yang memerlukan perhatian.
Komitmen.
Dari bahasa Inggeris ‘Commitment’, artinya menepati janji, bertanggungjawab. Tepat janji dan bertanggungjawab adalah sifat orang terpelajar dan professional. Dalam dunia maju dan professional, komitmen adalah suatu perilaku yang sangat menentukan citra dan kredibilitas (keterpercayaan) sesorang. Seorang yang mudah ingkar janji, mempunyai citra dan kredibilitas rendah. Sebaliknya seorang yang selalu tepat janji, mempunyai citra diri yang baik dan sangat dipercaya. Islam sejak 14 abad yang lalu telah mengajarkan hal ini, dan sangat mencela orang mudah ingkar janji dengan menggolongkannya sebagai munafik, suatu perilaku rendah dan tercela. Hadits: ‘Tanda orang munafik 3: apabila berkata dusta, apabila berjanji tidak menepati, apabila dipercaya, berkhianat’.
Problem Solving (Pemecahan Masalah)
Hidup adalah sebuah dinamika, bergerak, tidak statis, mengalami perubahan. Karena itu dalam kehidupan, manusia sering mempunyai masalah, ringan atau berat. Masalah harus dipecahkan segera, kalau tidak akan menimbulkan masalah baru yang bisa saja lebih berat dari masalah yang tidak dipecahkan dan memerlukan cost/beban yang lebih tinggi untuk pemecahannya. Beberapa langkah pemecahan masalah:
۪ Identifikasi/pengenalan masalah. Masalah perlu dikenali/dipahami secara jujur, tidak direkayasa dan dimanipulasi. Dalam identifikasi masalah termasuk identifikasi hal-hal terkait dengan masalah tersebut.
۪ Tentukan masalah pokok. Masalah pokok adalah masalah yang kalau dipecahkan, masalah lain akan terpecahkan dengan sendirinya.
۪ Dalam pemecahan masalah harus dihindari keluhan berlebihan dan memperturutkan/ mementingkan perasaan, tapi lebih memperhitungkan/memperkirakan dan membayangkan kesimpulan akhir/ selesainya masalah. Masalah tidak terpecahkan dengan mengeluh dan memperturutkan perasaan, bahkan akan mengakibatkan munculnya masalah lain seperti penyakit fisik: stress, tekanan darah tinggi, dll.

Kebahagiaan
Banyak sekali orang ingin mengetahui pengertian ‘kebahagiaan’ karena ingin mencapainya. Begitu kuatnya keinginan untuk mencapai kebahagiaan, banyak orang salah memahami kebahagiaan, bahkan mengartikan sendiri kebahagiaan sesuai dengan keperluannya masing-masing. Sebetulnya tidak ada definisi mutlak dari kebahagiaan, dan tidak ada perlunya membuat definisi tersebut. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang tetap, kekal, tetapi adalah suatu yang relatif. Secara sederhana kebahagiaan adalah kepuasan/kesenangan sementara yang dicapai dengan terpenuhinya satu atau sebagian dari harapan, keinginan dan kebutuhan yang sangat banyak dalam kehidupan lahir batin manusia. Bentuk dan sumber kesenangan berbeda pada setiap orang. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh tingkat kesejahteraan hidup: harta, jabatan, dll. Kebahagiaan lebih dekat dengan keadaan batiniah. Ada yang senang berpikir dan bekerja keras. Ia puas dan merasa bahagia kalau ia dapat berpikir dan bekerja walaupun kadang-kadang pekerjaan tersebut tidak mendatangkan hasil seimbang. Ada pasangan terlihat sangat bahagia walaupun dari segi ekonomi kehidupan mereka sangat sederhana, tidak berkecukupan. Ada orang yang mempunyai kekayaan berlimpah, selalu resah dalam kehidupan tetapi berlaku dan bergaya seperti orang bahagia. Jadi kebahagiaan adalah sesuatu yang relatif. Suatu hal yang penting dalam hal ini adalah kemampuan memahami pengertian kebahagiaan secara cerdas dan benar. Artinya hanya orang yang berpengetahuanlah yang mampu memahami dan merasakan kepuasan yang sebenarnya. Kebahagiaan dalam organisasi keluarga atau rumah-tangga juga sangat ditentukan oleh kepribadian, pengetahuan, dan kemampuan/ keterampilan pimpinan keluarga memahami kebutuhan dan membimbing seluruh anggota keluarga, terutama dalam hal batiniah.
Cinta
Banyak orang menggolongkan cinta menjadi cinta sejati, cinta palsu, dll. Ada orang mengartikan bahwa cinta suci adalah merasa senang melihat sesuatu atau orang yang dicintainya berbahagia, dan tidak harus memiliki yang dicintainya. Sebenarnya cinta itu tidak dapat digolongkan menjadi cinta sejati, cinta palsu, dan jenis lainnya. Mengelompokkan cinta seperti itu adalah suatu tindakan ceroboh dan bodoh. Cinta hanya satu jenis. Cinta ya cinta, dan cinta itu suci. Tidak ada cinta palsu. Kalau cinta tidak mengandung sifat suci, berarti bukan cinta tetapi hanya rasa senang yang bersifat sementara biasanya disebabkan oleh hal-hal bersifat murahan, kekayaan, dll. Begitu juga kata ‘tidak harus memiliki’. Tidak ada perlunya mengaitkan cinta dengan ‘memiliki atau tidak memiliki’, karena akan menyebabkan kesalah-pahaman kepada orang-orang yang kurang teliti dalam pemahaman. Pengertian sederhananya adalah: suatu perasaan senang dan keinginan selalu dekat (bukan dalam pengertian fisik) dengan seseorang terhadap suatu objek: benda, orang, Tuhan. Orang yang mencintai sesuatu menginginkan yang dicintainya baik/senang, ingin selalu dekat dan bersama dengan yang dicintainya. Ini berarti sesuatu yang suci. Kata ‘ingin memiliki’ dalam kaitan ini adalah sesuatu yang tidak jelas, dan tidak pasti. Kalau cinta ditambah dengan ‘tidak harus memiliki’, pengertiannya menjadi rancu dan tidak dapat dijelaskan. Bagaimana menjelaskan bahwa seorang Ibu yang mencintai anaknya tidak harus memiliki anaknya tersebut. Padahal secara manusiawi anak tersebut adalah miliknya.
* Mimpi
Mimpi adalah sebuah fenomena psikologis. Mimpi adalah suatu cara untuk memenuhi/ mencapai keinginan-keinginan sewaktu sadar atau siang hari.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama