Oleh: Hengki Desputra
Pada suatu hari Anwar si-penebang kayu berdialog dengan kursi-kursi yang tersusun rapi. Dengan wajah pucat, Anwar memandangi kursi yang ada didepannya, kursi yang berwarna hitam dan berbingkai kayu yang empuk, kursi yang tersusun dimeja hijau persidangan. Yang terbayang dalam pikiran Anwar, hanya ingin menduduki kursi itu. Tetapi kursi-kursi itu, seakan-akan tidak mau diduduki, malahan kursi itu seolah-olah menghinanya.

Dengan rasa kesal Anwar makin gigit jari, sepertinya kursi-kursi itu meremehkannya, mukanya makin memerah, semua kursi didalam ruangan itu semakin menghinanya, tetapi dia tidak tahu kenapa kursi-kursi itu meremehkannya. Didalam hati Anwar tertumpuk berbagai macam pertanyaan, kemudian ia mulai buka suara, “Mengapa kalian menghinaku?” kata Anwar. “Menghina siapa?” kursi-kursi itu serentak menjawab. “Menghinaku….” jawab Anwar. “Menghinamu…?” jawab kursi. “Yaa…. Menghinaku”. “Darimana kamu tahu bahwa kami menghinamu!”. “Dari sikap kalian yang tak bersahabat”. “Untuk apa kami bersahabat dengan penjarah hutan seperti kamu?”. “Eh…. Sebelum menuduh, teliti dulu dong kebenarannya….”jawab Anwar kesal.

Anwar sadar, mengapa kursi itu bertanya kepadanya. Apalagi pertanyaan kursi itu tentang “jarah menjarah”. Dia hanya berdiri disamping kursi-kursi itu setelah ia di tuduh membabat hutan rakyat. “Hei…. Apakah kamu rakyat Indonesia…?” kursi-kursi itu memecah keheningan. Anwar hanya tersenyum, ia sadar, kursi-kursi yang berada di ruangan itu belum tahu siapa rakyat itu. Di Indonesia ini tidak ada rakyatnya. Kalaupun ada, tatapi hanya sebagian kecil saja. Bisa dihitung dengan jari. Hei kursi-kursi…! Perlu kalian ketahui, yang dikatakan rakyat it adalah “orang yang datang untuk menduduki dirimu yang empuk itu” jawab Anwar. Kursi-kursi yang dibagian belakang berbuat gaduh dan saling bertanya, “jadi… selama ini kita telah berbuat dosa?”, kata kursi yang paling kanan. “dosa…” jawab kursi yang disebelahnya. “Ya…. Dosa?”. “Dosa yang mana? Bukankah selama ini kita telah berbuat kebenaran?”. “Kebenaran apa? Apakah kebenaran yang disampaikan oleh pembela kepada tersangka, apakah kebenaran yang diputuskan oleh sidang kepada orang yang tak bersalah harus dihukum dan dipenjara?”. Anwar hanya termenung mendengar kursi-kursi itu saling Tanya-jawab.


Hal-hal seperti inilah yang tidak diterima kursi-kursi itu, dan dia juga merasa bersalah kepada orang-orang yang hidup didalam hutan yang mengadu nasip dan hidup dengan hasil hutan itu. “Kalaupun kayu itu ditebang dengan beliung tidak akan menghabiskan hutan ini dengan berhektar-hektar, tetapi perusahaan-perusahaan besar, setiap harinya menebangi hutan-hutan yang masih perawan, bahkan menebangi hutan lindung, dengan penuh kesombongan mereka juga merampas tanah warga dengan kejam. Sungguh sangat menyedihkan. Untuk mengambil tanah rakyat, mereka membunuh, memukul, dan menindas dengan kejam. Seharusnya bukan kau yang duduk diatas kami ini. Tatapi orang-orang penting yang telah membabat hutan, dengan tragis dan telah membuat rakyat sengsara” kata kursi-kursi itu.

Anwar tersentak kaget, mendengar kursi-kursi itu berbicara sangat keras dan lantang. “kami kursi-kursi disini sudah muak melihat tingkah orang-orang berkuasa yang mempunyai uang, mereka sering memutar balikkan fakta, dan dengan uang itu, mereka mampu membeli keadilan negeri ini. Anwar makin kebingungan dan dia sendiri tidak tahu apa yang telah dilakukannya. “Dan kau hanya simbol bagi mereka akan kepura-puraan aparat kehakiman” ucap kursi lantang. “mereka akan menghukummu dan memasukkanmu kedalam penjara…. disana kau hanya ditemani lalat dan nyamuk, sedangkan orang-orang itu akan bersenang-senang dan berfoya-foya dengan uang haram mereka, itu sudah pasti, karena keadilan tidak ada bagi orang miskin dan rendahan, keadilan hanya ada buat orang yang berkuasa dan orang-orang yang mempunyai uang, karena mereka mampu membeli keadilan negeri ini. (Hengki Desputra).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama